Di Ndalem Kasepuhan Pesantren Tebuireng, Jombang, silaturahmi para Mustasyar PBNU akhirnya terselenggara. Prof Mohammad Nuh, Rais Syuriyah PBNU, menyambut baik pertemuan Sabtu siang itu. Dia mengapresiasi niat baik penyelenggara dan setiap saran yang mengalir dari forum. Nasehat-nasehat itu, kata dia, akan dilaporkan ke pimpinan tertinggi.
“Kami hadir ke Tebuireng sebagai bentuk penghormatan,” ujar Nuh lewat keterangan tertulisnya.
Menurutnya, memberikan arahan dan pertimbangan memang tugas pokok Mustasyar, baik diminta ataupun tidak. Hal ini diamanatkan oleh Pasal 17 AD dan Pasal 57 ART NU. “Bisa dilakukan secara perorangan, bisa juga kolektif,” tambahnya.
Namun begitu, Nuh menegaskan satu hal. Proses pengambilan keputusan akhir harus tetap berjalan lewat jalur organisasi. Mekanismenya adalah rapat pleno yang rencananya digelar 9-10 Desember mendatang. “Itu forum resminya,” tegasnya.
Dari 30 anggota Mustasyar, pertemuan di Tebuireng hanya dihadiri tujuh orang. Tiga hadir secara daring: KH Ma’ruf Amin, KH Abdullah Ubab Maimoen, dan Nyai Shinta Nuriyah Wahid. Sementara yang hadir langsung di lokasi adalah KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Jazuli, KH Said Aqil Siradj, serta Nyai Mahfudhoh Aly Ubaid.
“Kami tetap menghormati saran dari yang hadir, daring maupun luring,” kata Nuh.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Pastikan Pasar Daging Tak Sepi Meski Ada Ancaman Mogok
Gubernur Pramono Anung Ingatkan Bank Jakarta: IPO Bukan Cuma Soal Angka
Sopir Angkot Bogor Berdemo, Tolak Rencana Penghapusan Kendaraan Tua
Sukamta Kecam Israel: Penghancuran Markas UNRWA Lukai Nurani Kemanusiaan