Di Balai Kota Jakarta, Rabu kemarin, Gubernur DKI Pramono Anung bersuara lantang. Ia memerintahkan jajaran Satpol PP dan perangkat wilayah untuk segera membersihkan atribut kampanye yang masih terpasang. Aturannya jelas: spanduk, baliho, hingga bendera partai politik wajib turun dalam waktu dua hari pasca-acara. Kalau tidak, petugas yang akan turun tangan.
"Di ruang terbuka ini saya sampaikan secara terbuka," ujarnya.
"Dulu, kalau ada acara partai, benderanya itu bisa dipasang sebulan, enggak ada yang nurunin. Benderanya sudah sobek-sobek, sudah jelek banget," tambah Pramono, menggambarkan kondisi yang kerap dijumpai di sudut-sudut kota.
Menurutnya, penertiban ini mutlak diperlukan demi ketertiban dan keindahan ruang publik. Banyak keluhan warga yang sampai ke meja kerjanya, mengeluhkan atribut yang dibiarkan berantakan dan merusak pemandangan.
"Saya bilang sama Kepala Dinas terkait, kepada Satpol PP, sudah enggak boleh lagi. Sekarang maksimum 2-3 hari setelah acara, kalau enggak diturunkan, kita yang menurunkan," tegasnya.
Ia bahkan mengaku tak segan menegur rekan sesama partai. "Mohon maaf, saya juga orang partai Pak, tapi ini mengganggu," lanjutnya.
Aturan ini, ditegaskannya, berlaku untuk semua. Tanpa pandang bulu. Pramono bercerita pernah mendapat protes langsung dari pimpinan partai, namun ia bersikukuh pada pendiriannya.
"Kemarin ada yang protes, saya bilang saya harus adil bagi semuanya. Walaupun yang telepon saya Ketua Umum sahabat saya, saya bilang saya harus adil buat semuanya," ungkapnya.
Tak cuma omong doang, Pramono mengaku sudah turun tangan langsung. Ia pernah menghubungi Kepala Satpol PP Jakarta, Satriadi, untuk meminta penurunan bendera dan spanduk yang membandel di jalan raya.
"Termasuk spanduk-spanduk. Kemarin ada spanduk 'Bekerja dengan rakyat', wajahnya enggak pernah bekerja dengan rakyat tuh," selorohnya, menyindir sebuah spanduk yang ia lihat.
Kesabarannya benar-benar diuji oleh sebuah spanduk di jembatan penyeberangan. "Enggak diturun-turunin di jembatan penyeberangan, lama banget," keluhnya.
"Sampai saya telepon, 'Kenapa enggak diturunin? Ganggu banget tiap hari saya liatin'."
Nada suaranya terdengar seperti warga Jakarta kebanyakan yang sudah jengah dengan pemandangan tak sedap itu. Titik.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 4,2 Guncang Melonguane dari Kedalaman 215 Kilometer
Megawati Soroti Venezuela dan Serangan AS-Israel ke Iran, Serukan Relevansi Dasa Sila Bandung
JK Bantah Tudingan Danai Kasus Ijazah Jokowi, Klaim Dirinya Pengantar ke Kursi Presiden
Arema FC Taklukkan Persis Solo 2-0 di Kanjuruhan Berkat Dua Gol Gabriel Silva