Menteri Lingkungan Hidup Ungkap Penyebab Banjir Sumatera: Hujan Ekstrem dan Lanskap yang Sakit

- Selasa, 02 Desember 2025 | 22:15 WIB
Menteri Lingkungan Hidup Ungkap Penyebab Banjir Sumatera: Hujan Ekstrem dan Lanskap yang Sakit

Wilayah Sumatera baru saja dilanda banjir parah. Menanggapi bencana ini, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq angkat bicara. Menurutnya, ada dua faktor utama yang berkolusi: curah hujan yang luar biasa tinggi, ditambah kondisi lanskap dan perubahan tata ruang di lapangan.

Namun begitu, rupanya tak semua daerah yang kebanjiran mengalami hujan ekstrem. Ambil contoh Batang Toru di Tapanuli Selatan. Kerusakan di sana terbilang parah, padahal intensitas hujannya tidak termasuk kategori paling tinggi.

"Kenapa Batang Toru ini kemudian berdampak rusaknya besar?" tanya Hanif dalam jumpa pers di Hotel Indonesia Kempinski, Selasa (2/12/2025).

"Karena dia landscape-nya berbentuk seperti V. Jadi Tapanuli Tengah dan Selatan ada di lereng, di lembahnya. Sehingga pada saat lereng kanan-kirinya terganggu, maka terjadi bencana yang cukup besar. Meskipun curah hujannya ekstrem tidak sangat ekstrem," paparnya.

Kondisi vegetasi di sana, kata Hanif, juga memperburuk keadaan. Saat hujan turun, daerah itu sudah kehilangan banyak pohon.

"Nah itu begitu dia hujan sudah dipastikan lah tidak ada pohon," ujarnya.

"Ada pohon sebesar 38 persen tapi dia ada di tengah dan hilir. Sehingga daya tahannya tidak terlalu besar."

Lain cerita dengan Aceh. Menurut pemantauan kementerian, hujan di provinsi ujung barat Indonesia itu jauh lebih dahsyat. Curah hujannya bahkan mencatatkan angka yang fantastis.

"Aceh dengan landscape 3,3 juta hektare itu lebih ekstrem hujannya dibandingkan Batang Toru. Jadi Aceh tercatatkan di beberapa lokasi bahkan mencapai 400 mm," jelas Hanif.

Ia lalu menggambarkan skala bencana dengan hitungan yang mudah dicerna.

"Artinya kalau 400 mm, 300 lebih ya ini anggaplah 330-an dikalikan luas kesemennya yang 3,3 juta, maka di Aceh hari itu dua hari telah datang air sejumlah 9,7 miliar kubik. Bayangkan air seluas itu, siapa yang bisa selamat?"

Di sisi lain, Sumatera Barat menghadapi kombinasi mematikan. Curah hujan ekstrem bertemu dengan lanskap yang secara alami rentan.

"Nah kemudian di Sumatera Barat, ini juga (curah hujan) ekstrem, sangat ekstrem dibandingkan Batang Toru tadi. Kemudian dia memiliki lanskap yang agak pendek dan curam. Sehingga korbannya juga relatif besar," tambahnya.

Menyikapi rangkaian bencana ini, Kementerian Lingkungan Hidup tak tinggal diam. Hanif menyebut pihaknya sedang mendalami kasus ini secara serius. Ada indikasi perubahan tata ruang yang dramatis dan bermasalah.

"Nah ini yang langkah-langkah ini sedang kita dalami. Karena ternyata memang ada perubahan dramatis dari tata ruang kita," tegasnya.

"Kami sudah mengumpulkan data dengan detail dan melalui citra satelit yang telah kami pelajari. Kami juga telah mengundang entitas-entitas yang ada di sepanjang DAS itu untuk hadir di Kementerian Lingkungan Hidup untuk kita akan segera memulai masa-masa dimulainya penyelidikan terkait dengan kasus ini," pungkas Hanif.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar