Jaringannya ternyata luas sekali. Tak cuma di Asia Tenggara, Dewi Astutik juga disebut-sebut sebagai rekrutor utama untuk jaringan yang membentang dari Asia hingga Afrika. Buron di Indonesia saja belum cukup, rupanya dia juga masuk daftar pencarian orang (DPO) dari otoritas Korea Selatan.
"Selain itu, PAR alias Dewi Astutik alias Kak Dinda alias Dinda ini merupakan rekrutor dari jaringan Asia-Afrika. Dan juga menjadi DPO dari negara Korea Selatan," ungkap Suyudi.
Lantas, bagaimana dia akhirnya bisa tertangkap? Semua berkat kolaborasi yang solid. Operasi ini melibatkan banyak pihak, mulai dari Kepolisian dan Badan Intelejen Kamboja (BAIS), hingga Interpol dan pihak kedutaan. Kerja sama internasional inilah kunci keberhasilannya.
"Operasi ini merupakan wujud nyata kolaborasi internasional antara BNN republik Indonesia dengan BAIS perwakilan Kamboja, Kepolisian negara Kamboja, KBRI di Phnom Penh, Polri dalam hal ini Interpol serta Direktur Direktorat Jenderal Beacukai Kemnkeu dan Kemenlu," imbuhnya.
Singkatnya, akhir kisah pelarian Dewi Astutik berakhir di Kamboja. Setelah lama diburu Interpol terkait kasus penyelundupan sabu raksasa itu, dia akhirnya berhasil diringkus. Diduga kuat, dialah aktor utama di balik seluruh operasi gelap tersebut.
Artikel Terkait
Tagihan Karaoke Picu Keributan, Polisi Buru Tujuh Pria di Parung
Puting Beliung Terjang Probolinggo, Rumah Roboh dan Pohon Tumbang Berantakan
PSI Banten Gelar Istighosah, Panjatkan Doa Khusus untuk Korban Bencana
Pezeshkian Ucapkan Terima Kasih ke Putin, Tuding AS dan Israel Campuri Urusan Dalam Negeri Iran