Dalam jumpa pers yang digelar Selasa lalu, suasana ruangan terasa tegas. Irjen Suyudi Ario Seto dari BNN berdiri di depan para wartawan. Ia mengumumkan kabar penting: penangkapan gembong narkoba Dewi Astutik, atau yang kerap disapa PA, bukan sekadar soal menciduk seorang buron. Lebih dari itu, operasi ini disebutnya telah menyelamatkan nyawa sekitar 8 juta jiwa dari cengkeraman bahaya narkotika.
"Penangkapan dua ton sabu tersebut berhasil menyelamatkan sekitar 8 juta jiwa dari ancaman bahaya narkotika," tegas Suyudi.
Angka itu tentu bukan main-main. Ia muncul dari analisis terhadap volume sabu murni yang berhasil disita sebanyak dua ton dengan nilai mencapai Rp 5 triliun. Barang haram itu rencananya akan diedarkan, dan kini sudah diamankan.
Menurut paparan Suyudi, nama Dewi Astutik bukanlah pemain kecil. Di dunia gelap narkoba internasional, perempuan ini mendominasi kawasan segitiga emas atau golden triangle. Hebatnya, ia menguasai wilayah itu bersama Fredy Pratama, sesama gembong narkoba asal Indonesia yang sudah lebih dulu terkenal.
"Berdasarkan hasil analisa, terdapat dua nama asal Indonesia yang mendominasi kawasan golden triangle yakni Fredy Pratama dan PAR, alias Dewi Astutik Alis Kak Dinda alias Dinda Ini," jelasnya.
Jaringannya ternyata luas sekali. Tak cuma di Asia Tenggara, Dewi Astutik juga disebut-sebut sebagai rekrutor utama untuk jaringan yang membentang dari Asia hingga Afrika. Buron di Indonesia saja belum cukup, rupanya dia juga masuk daftar pencarian orang (DPO) dari otoritas Korea Selatan.
"Selain itu, PAR alias Dewi Astutik alias Kak Dinda alias Dinda ini merupakan rekrutor dari jaringan Asia-Afrika. Dan juga menjadi DPO dari negara Korea Selatan," ungkap Suyudi.
Lantas, bagaimana dia akhirnya bisa tertangkap? Semua berkat kolaborasi yang solid. Operasi ini melibatkan banyak pihak, mulai dari Kepolisian dan Badan Intelejen Kamboja (BAIS), hingga Interpol dan pihak kedutaan. Kerja sama internasional inilah kunci keberhasilannya.
"Operasi ini merupakan wujud nyata kolaborasi internasional antara BNN republik Indonesia dengan BAIS perwakilan Kamboja, Kepolisian negara Kamboja, KBRI di Phnom Penh, Polri dalam hal ini Interpol serta Direktur Direktorat Jenderal Beacukai Kemnkeu dan Kemenlu," imbuhnya.
Singkatnya, akhir kisah pelarian Dewi Astutik berakhir di Kamboja. Setelah lama diburu Interpol terkait kasus penyelundupan sabu raksasa itu, dia akhirnya berhasil diringkus. Diduga kuat, dialah aktor utama di balik seluruh operasi gelap tersebut.
Artikel Terkait
Persija Bekuk PSBS 1-0, Posisi Ketiga Kian Kokoh
Houthi Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb Jika Trump Halangi Perdamaian
Pengamat Dukung Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi, Sebut Koreksi yang Tepat
MUI Soroti Penguburan Hidup-Hidup Ikan Sapu-sapu, Pemprov DKI Tinjau Ulang Metode