Prospek ekonomi Indonesia di tahun 2026 dinilai tetap kuat. Optimisme itu disampaikan Bambang Soesatyo, atau yang akrab disapa Bamsoet, Wakil Ketua Umum KADIN. Menurutnya, pondasi perekonomian kita cukup tangguh, didukung stabilitas makro yang terjaga, derasnya arus investasi, serta upaya perluasan industri dan hilirisasi yang kian masif.
Namun begitu, Bamsoet mengingatkan kita untuk tak lengah. Ada sejumlah tantangan global yang harus diwaspadai, mulai dari gejolak geopolitik yang tak menentu, perubahan kebijakan moneter negara maju, hingga volatilitas harga komoditas. Perlambatan ekonomi mitra dagang juga jadi perhatian serius.
Tantangan di dalam negeri pun tak kalah pelik. Daya beli masyarakat masih tertekan inflasi, sementara belanja pemerintah dinilai belum optimal. Di sisi lain, tingginya suku bunga dan ketidakpastian hukum berpotensi memperlambat laju investasi.
Dalam kondisi seperti ini, Bamsoet menegaskan dunia usaha harus tampil sebagai motor penggerak utama. Penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan rakyat adalah tugas besarnya. “Lapangan kerja itu fondasi segala-galanya,” ujarnya. “Dari situ kesejahteraan, daya beli, dan stabilitas nasional dibangun.”
Karena itu, peran KADIN dinilai krusial untuk menjembatani semua pihak dari pelaku usaha besar, UMKM, lembaga pembiayaan, hingga pemerintah daerah agar penciptaan pekerjaan berjalan lebih sistematis dan terarah.
“Kunci peningkatan kesejahteraan adalah transformasi kualitas pekerjaan,” tegas Bamsoet dalam keterangannya, Selasa (2/12/2025).
“Kita harus memperluas lapangan kerja yang berkelanjutan, berpenghasilan layak, dan memberi ruang masyarakat meningkatkan taraf hidup. Itu hanya bisa terjadi melalui kolaborasi besar antara dunia usaha, pemerintah, sektor keuangan, dan lembaga pendidikan.”
Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri Pembukaan Rapimnas KADIN Indonesia 2025 di Jakarta, sehari sebelumnya.
Memang, data terbaru dari BPS per Agustus 2025 menunjukkan sinyal positif: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun ke 4,85 persen. Jumlah penduduk bekerja juga naik, mencapai 146,54 juta orang bertambah sekitar 1,9 juta dibanding tahun sebelumnya.
Tapi bagi Bamsoet yang juga anggota DPR RI, angka-angka itu belum sepenuhnya menggambarkan perbaikan struktur ketenagakerjaan. Soalnya, sebagian besar pekerjaan baru justru muncul di sektor informal, dengan perlindungan sosial dan skema upah yang masih jauh dari ideal.
“Penyerapan tenaga kerja harus bergerak dari informal ke formal,” ungkapnya. “Kita ingin pekerja memperoleh jaminan sosial, kepastian upah, dan peluang berkembang. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi memberi dampak signifikan terhadap kesejahteraan warga.”
Di sinilah peran UMKM menjadi sangat menentukan. Data Kementerian UMKM mencatat ada sekitar 30,18 juta unit yang aktif hingga akhir 2024. Angka yang fantastis, sekaligus penuh tantangan. Masalah klasik seperti kesulitan akses kredit perbankan, pasar, dan literasi digital masih membelit banyak pelaku.
Meski begitu, ada titik terang. Program digitalisasi UMKM yang digenjot dua tahun terakhir mulai menunjukkan hasil nyata. Di kota-kota seperti Solo, Yogyakarta, Makassar, dan Balikpapan, usaha mikro yang masuk ekosistem digital telah melahirkan lapangan kerja baru dari pemasaran digital, logistik, produksi konten, hingga layanan pelanggan.
“Kalau UMKM mendapat pembiayaan mudah, akses ke rantai pasok nasional, dan pendampingan digital, maka jutaan pekerjaan baru akan tercipta,” tambah Bamsoet. “Yang kita bangun adalah ekosistem, bukan sekadar program.”
Untuk itulah, dalam Rapimnas KADIN 2025 ini, Bamsoet mendorong tiga fokus strategis. Pertama, memperkuat skema pembiayaan bagi usaha mikro dan kecil agar mereka bisa berkembang dan merekrut. Kedua, mempercepat program skilling dan reskilling agar tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan industri modern, terutama yang berbasis teknologi dan energi terbarukan. Ketiga, mempererat kemitraan antara usaha besar dengan UMKM daerah melalui pola offtaker dan rantai pasok yang inklusif.
Salah satu langkah konkret yang sedang dipacu adalah integrasi program pelatihan berbasis kebutuhan industri. KADIN kini bekerja sama dengan pemerintah dan investor untuk memastikan pelatihan itu berujung pada penempatan kerja yang terukur, khususnya di sektor-sektor seperti manufaktur, energi terbarukan, kesehatan, dan ekonomi digital.
“Kita harus bergerak bersama,” pungkas Bamsoet. “Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh satu sektor, melainkan gotong royong seluruh elemen bangsa. Lapangan kerja yang luas, adil, dan berkualitas adalah fondasi utama menuju Indonesia sejahtera dan mandiri.”
Acara pembukaan Rapimnas tersebut dihadiri sejumlah tokoh kunci, antara lain Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan. Turut hadir pula Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti, Sekretaris Utama BIN Letjen TNI Rafael Granada Baay, serta pimpinan KADIN pusat dan daerah se-Indonesia.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Kerahkan PJLP untuk Tekan Populasi Ikan Sapu-sapu di Sungai Jakarta
Jukir Otak Pengeroyokan Satpam di Makassar Ditangkap, Anaknya Masih Diburu
Presiden Prabowo Perintahkan Percepatan Program Strategis, Fokus pada Hilirisasi dan Energi dari Sampah
Kebakaran Diduga Akibat Korsleting Tewaskan Satu Keluarga di Grogol Petamburan