Soal stok, Tito lagi-lagi menenangkan. Di Lhokseumawe saja, katanya, tersedia 28 ribu ton beras Bulog. Jumlah itu dianggap cukup untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan.
Namun begitu, di beberapa tempat seperti Sibolga, sempat terjadi kecemasan. Sejumlah warga mendatangi gudang Bulog, khawatir logistik tak sampai karena akses wilayah yang terhambat. Situasi ini mengingatkan pada peristiwa di Palu dulu.
“Kita tahu, kan, saat itu terjadi panic buying. Daerah terisolasi, akses tertutup. Hari ketiga di Palu dulu bahkan sampai ada penjarahan,” kenang Tito.
Belajar dari pengalaman, pemerintah kini mendistribusikan logistik secara proaktif ke daerah-daerah yang sulit dijangkau. Berbagai jalur dimaksimalkan. Tito juga berharap masyarakat paham, semua penyaluran punya mekanisme agar tepat sasaran dan teratur.
Di sisi lain, persoalan tempat tinggal sementara bagi korban bencana masih terus diatasi. Pendataan rumah rusak berat masih berjalan. Sementara ini, warga mengungsi di masjid, gedung pemerintah, tenda, atau kembali ke rumah mereka yang masih bisa ditinggali sambil menunggu kepastian huntara dibangun.
Artikel Terkait
Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Naik ke Penyidikan, Pelaku Pakai Nama Alias
Pemerintah Siapkan Kontak dan Aplikasi Darurat untuk Antisipasi Macet Mudik 2026
Kantor Imigrasi Bogor Jadi Galeri Pemasaran Produk Warga Binaan Lapas
Ditresnarkoba Polda Riau Gagalkan Peredaran 22,73 Kg Heroin Senilai Rp68,1 Miliar