Serangan Israel di Beirut: Gencatan Senjata Menuju Titik Retak

- Rabu, 26 November 2025 | 10:35 WIB
Serangan Israel di Beirut: Gencatan Senjata Menuju Titik Retak

Suasana Beirut akhir pekan lalu kembali pecah oleh dentuman. Pesawat tempur Israel melancarkan serangan udara ke ibu kota Lebanon itu yang pertama sejak beberapa bulan terakhir. Menurut klaim pemerintah Israel, operasi ini ditargetkan secara spesifik untuk menyingkirkan Haytham Ali Tabtabai, sang kepala staf militer Hezbollah.

Serangan itu menghantam sebuah apartemen di kawasan selatan Beirut yang padat penduduk. Akibatnya, setidaknya lima orang tewas dan 28 lainnya luka-luka berdasarkan data otoritas Lebanon. Insiden ini seolah menjadi puncak gunung es dari rentetan pemboman sepihak Israel di Lebanon selatan sepanjang pekan kemarin. Pejabat kesehatan setempat menyebut lebih dari selusin warga sipil menjadi korban.

Namun begitu, warga lokal justru membantah keras narasi yang menyebut daerah mereka sebagai sarang persenjataan. "Ini kawasan permukiman sipil," tegas seorang warga yang enggan disebut namanya. Lapangan olahraga yang biasa dipakai anak-anak muda setempat, katanya, kini rata dengan tanah.

Penduduk lain menambahkan, "Kami selalu main di sana. Isu bahwa ini markas Hamas itu jelas bohong besar."

Bantahan juga datang dari sayap militer Hezbollah kelompok yang oleh sejumlah negara seperti AS dan Jerman diklasifikasikan sebagai organisasi teroris. Mereka menampik semua tuduhan Israel.

Sami Halabi, Direktur Kebijakan di The Alternative Policy Institute Beirut, menggambarkan situasi ini dengan nada pesimistis. "Setahun sudah berlalu, yang tersisa dari gencatan senjata hanyalah serpihan," ujarnya. Menurut analisnya, perjanjian yang rapuh itu bisa bertahan hanya karena semua pihak masih butuh jeda untuk kepentingan masing-masing. Tahun depan, prediksinya, akan menjadi penentu nasib: apakah Lebanon berhasil menyelesaikan akar masalah, atau gencatan senjata ambruk dan negara ini kembali terjerumus dalam perang terbuka.

Jalan Panjang Menuju Gencatan Senjata

Semua ini berawal dari konflik yang meledak pada 8 Oktober 2023, sehari setelah serangan Hamas ke Israel. Hezbollah lantas merespons dengan membombardir Israel utara sebagai bentuk solidaritas. Baku tembak selama setahun itu memaksa sekitar 60.000 warga Israel dan 100.000 warga Lebanon mengungsi dari wilayah perbatasan. Sampai sekarang, sebagian besar dari mereka belum berani pulang. Di sisi Lebanon, reruntuhan dan ancaman serangan udara membuat kepulangan warga sipil hampir mustahil.

Puncak ketegangan terjadi pada 30 September 2024 ketika konflik berkembang menjadi perang dua bulan di Lebanon, lengkap dengan invasi darat Israel. Korban jiwa terus berjatuhan. Data Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 4.200 orang tewas hingga 9 Januari 2025 mayoritas adalah warga sipil Lebanon. Bank Dunia memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai angka fantastis: USD 11 miliar.

Memang, Israel berhasil melemahkan Hezbollah dengan menewaskan sejumlah komandan dan melumpuhkan kapasitas militernya. Tapi kelompok itu tetaplah bagian inti dari "poros perlawanan" Iran yang menyerukan penghancuran AS dan Israel. Israel sendiri menuduh Hezbollah mulai bangkit dan menimbun senjata kembali.

Retaknya Fondasi Perjanjian

Gencatan senjata yang dirumuskan Prancis dan AS pada 27 November 2024 sebenarnya mengadopsi ketentuan utama Resolusi PBB 1701 tahun 2006. Salah satu poin kuncinya adalah keharusan Israel untuk mundur total dari Lebanon. Kenyataannya? Hingga detik ini, tentara Israel masih bercokol di lima titik.

Belum lama ini, Beirut bahkan mengajukan protes resmi ke Dewan Keamanan PBB. Mereka menuding tembok baru yang dibangun Israel menurut laporan UNIFIL melanggar Garis Biru dan memotong akses Lebanon terhadap lebih dari 4.000 meter persegi lahannya. Israel membantah, berdalih pembangunan sudah dimulai sejak 2022.

Sementara itu, Hezbollah diwajibkan menarik pasukannya ke utara Sungai Litani. Mereka mengklaim sudah patuh. Tapi soal pelucutan senjata, kelompok ini punya penafsiran sendiri: kewajiban itu hanya berlaku untuk wilayah selatan Litani, bukan seluruh Lebanon. Selama Israel masih menduduki tanah Lebanon, mereka bersikukuh tak akan meletakkan senjata. Bahkan pada Agustus lalu, Hezbollah sempat mengancam akan memicu perang saudara jika pemerintah memaksa mereka dilucuti.

Di tengah situasi yang pelik ini, rencana penurunan tentara Lebanon bersama pasukan perdamaian UNIFIL ke selatan tetap berjalan. Perdana Menteri Nawaf Salam memastikan program demiliterisasi kawasan itu akan tuntas akhir bulan. "Kami butuh merekrut lebih banyak personel, memperkuat peralatan, dan tentunya menaikkan gaji tentara," paparnya.

Tapi Halabi punya pandangan berbeda. Menurutnya, akar masalah masih jauh dari penyelesaian. "Gencatan senjata ini mirip 'perdamaian ala Trump': sekumpulan poin yang dianggap sebagai kerangka besar," kritiknya. Setahun berjalan, Lebanon tidak lebih dekat ke solusi konflik. Stabilitas hanya mungkin terwujud jika negara mampu mengambil alih pertahanan nasional entah dengan memperkuat militer seperti Mesir atau melalui kesepakatan politik yang lebih luas. "Salah satu atau kedua-duanya harus berjalan. Status quo jelas bukan pilihan."

Mungkinkan Negosiasi Langsung Terjadi?

Di balik semua ketegangan, gencatan senjata setidaknya berhasil mengakhiri kevakuman politik di Lebanon dengan terpilihnya Presiden Joseph Aoun pada Januari 2025. Bulan ini, Aoun menegaskan Lebanon "tidak punya pilihan lain selain bernegosiasi." Bahasa diplomasi, katanya, jauh lebih berharga daripada bahasa perang.

Perdana Menteri Salam sependapat, berharap ada dukungan Amerika Serikat untuk membuka jalur diplomatik.

Tapi sejarah membuktikan, negosiasi langsung Lebanon–Israel selalu gagal. Secara teknis, kedua negara masih dalam keadaan perang sejak 1948. Perundingan langsung hanya terjadi sekali pada 1983, dan tidak pernah terulang lagi. Kini tekanan datang dari dua front: serangan militer Israel dan desakan diplomatik AS agar Lebanon menerima kompromi yang dulu dianggap mustahil.

Prospek ini jelas mengusik Hezbollah. Seperti diungkapkan Lina Khatib dari Chatham House, kesepakatan damai jika benar-benar terwujud akan menghapus alasan utama eksistensi kelompok tersebut: sebagai kekuatan "perlawanan".

Artikel diperbarui pada 24 November 2025. Disadur oleh Rizki Nugraha. Editor: Yuniman Farid

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar