"Kita memang sering menjalani latihan keras, tapi itu tidak boleh sampai menyakiti, apalagi menghilangkan nyawa seseorang. Itu sama sekali tidak dibenarkan," sambung Bangun Nawoko.
Ia lantas mengimbau pentingnya suasana kekeluargaan di barak. Kehidupan di asrama, katanya, harus jadi wadah saling mengasah, mengasihi, dan mengasuh. Apalagi mengingat tugas di lapangan sering kali penuh bahaya dan membutuhkan persiapan mental yang matang.
"Jadi, ya, di barak harus ada semangat gotong royong. Saling asah, asih, asuh. Itu modal untuk menghadapi tugas-tugas sulit di luar," paparnya.
Mayjen Bangun tak menyembunyikan kekecewaannya. Ia mengaku sangat menyesal melihat prajurit senior tega melakukan dugaan tindak kekerasan terhadap yuniornya. Ia pun berjanji akan melakukan pembenahan menyeluruh di internal kesatuan.
"Sampai saat ini baru tiga orang yang ditetapkan sebagai tersangka. Yang membuat hati ini sedih, pelakunya hanya satu tingkat di atas korban. Inilah yang harus kita benahi soal kehidupan barak," imbuhnya dengan nada prihatin.
Artikel Terkait
Kaesang Buka Safari Ramadan PSI dengan Kunjungan ke Dua Ponpes di Pandeglang
Anak Buronan Riza Chalid Divonis 15 Tahun Penjara dan Denda Rp 2,9 Triliun
Pertamina Pastikan Stok dan Kualitas Avtur Aman Jelang Idulfitri
Herdman Pertimbangkan Pemain Indonesia Timur yang On-fire untuk FIFA Series 2026