Pramono Anung Bentuk Satgas Jaga Jakarta, Tak Hanya untuk Tawuran dan Banjir

- Jumat, 21 November 2025 | 11:35 WIB
Pramono Anung Bentuk Satgas Jaga Jakarta, Tak Hanya untuk Tawuran dan Banjir

Jakarta sedang berubah. Di tengah upayanya menjadi kota global, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung justru meluncurkan sebuah terobosan: Satuan Tugas Jaga Jakarta. Lembaga ini dibentuk bukan tanpa alasan. Fungsinya jelas, menjaga keamanan dan ketertiban Ibu Kota, menangani segala hal mulai dari banjir yang kerap melanda hingga mencegah tawuran yang masih terjadi.

Menurut Pramono, transformasi menuju kota dunia tidak hanya soal gedung pencakar langit dan infrastruktur megah. Ada elemen lain yang tak kalah penting.

"Jakarta sedang bertransformasi menuju kota global. Namun menjadi kota global bukan hanya tentang pembangunan fisik. Kesadaran kolektif masyarakat juga penting. Satgas Jaga Jakarta lahir dari kesadaran itu," ujarnya di Balai Kota Jakarta, Jumat (21/11/2025).

Cakupan kerja Satgas ini terbilang luas. Mereka akan berurusan dengan beragam isu kerawanan, mulai dari tawuran dan kriminalitas jalanan, konflik sosial, sampai ancaman disinformasi dan potensi radikalisme. Belum lagi ancaman alam seperti banjir, kebakaran, dan cuaca ekstrem yang selalu mengintai.

"Semua ini menuntut kewaspadaan yang tinggi dan pendekatan kolaboratif," tambah Pramono menekankan.

Di sisi lain, Pramono tak lupa menyampaikan apresiasinya. Dukungan dari TNI, Polri, dan tentu saja masyarakat yang aktif disebutkannya sebagai tulang punggung dalam menjaga Jakarta. Ia punya pesan khusus untuk para anggota Satgas.

"Komitmen ini bukan sekadar kata-kata. Saya titipkan pesan kepada seluruh anggota Satgas, jalankan tugas dengan integritas dan kepekaan. Jadilah mata, telinga, dan hati pemerintah di tengah masyarakat," tegasnya.

Soal tawuran, pendekatannya kini berbeda. Pramono menjelaskan bahwa mereka mengedepankan cara-cara yang lebih manusiawi. Daripada langsung menghakimi, langkah yang diambil justru mendekati para pelaku.

"Penanganan tawuran sekarang lebih human approach. Mereka kita dekati, tidak terekspos, dan kita salurkan energinya ke pekerjaan. Kami buka job fair, dan kelompok ini kita beri kesempatan bekerja," jelasnya. Intinya, beri mereka lapangan kerja, alihkan energi negatif itu ke hal yang produktif.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar