Gubernur juga mengingatkan bahwa penerima KJP pada dasarnya adalah siswa dari keluarga dengan latar belakang ekonomi tertentu yang membutuhkan bantuan. Oleh karena itu, setiap keputusan mengenai penghentian atau evaluasi bantuan harus dipertimbangkan dengan sangat matang dan hati-hati. "Saya belum memutuskan apa pun mengenai hal itu," tegasnya.
Faktor Penyebab: Pengaruh Media Sosial dan Kondisi Keluarga
Sebelumnya, Pramono Anung telah menyampaikan bahwa aksi pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta diduga kuat dipengaruhi oleh tontonan di media sosial, bukan karena faktor perundungan (bullying). Kesimpulan ini didasarkan pada kesaksian yang diberikan oleh para siswa lainnya di sekolah tersebut.
"Dari keterangan teman-teman di SMA 72, semuanya menyampaikan bahwa tidak ada indikasi bullying," ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Kamis (13/11).
Pramono juga mengungkap kondisi keluarga pelaku. Menurutnya, siswa pelaku diduga kurang mendapatkan pendampingan yang memadai dari lingkungan sekitarnya. Latar belakang keluarganya, dimana orang tuanya berpisah dan pelaku tinggal bersama ayahnya yang bekerja sebagai chef dan memiliki kesibukan tinggi, turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan. "Dari cara dia mempersiapkan bom, berpakaian seperti Rambo, kemungkinan besar ini terpengaruh konten dari YouTube dan media sosial," tambah Pramono.
Artikel Terkait
Kepala KPP Jakarta Utara Dicokok KPK, Suap Pajak Rp 4 Miliar Beralih ke Dolar Singapura
KPK Gelar OTT Perdana 2026, Kantor Pajak dan Perusahaan Tambang Jadi Sasaran
Trump Siap Bantu Iran, Gelombang Protes Makin Mengguncang
Paus Leo XIV Soroti Luka Gereja: Pintu Tak Boleh Tertutup bagi Korban