Masalah utama yang sering dihadapi manusia adalah ketidakmampuan menyikapi perubahan kondisi dengan bijak. Saat berada di atas, banyak yang terjebak dalam kesombongan. Sebaliknya, ketika mengalami kesulitan, mudah muncul putus asa dan pesimisme.
Islam menawarkan solusi melalui sintesis yang seimbang: kombinasi antara syukur dan sabar. Sebagaimana pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib: "Masa itu terdiri dari dua hari. Hari keberuntunganmu dan hari kerugianmu. Jika engkau sedang berada di hari keberuntunganmu maka janganlah kamu sombong. Dan di saat kau berada di hari kerugianmu maka bersabarlah."
Hikmah Praktis Menghadapi Perubahan
Allah menjanjikan kemudahan setelah kesulitan: "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (QS. Al-Insyirah: 5-6). Janji ini memberikan harapan di saat-saat sulit.
Bersyukur dalam kelapangan akan mendatangkan tambahan nikmat: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu" (QS. Ibrahim: 7). Sementara kesabaran dalam kesulitan akan mendatangkan kabar gembira: "Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar" (QS. Al-Baqarah: 155).
Dengan memahami bahwa setiap fase kehidupan memiliki hikmahnya masing-masing, kita dapat melalui pasang surut hidup dengan lebih bijaksana, tetap optimis di saat sulit, dan rendah hati di saat berhasil.
Artikel Terkait
Komnas HAM Tegaskan Kritik Kebijakan Pemerintah Adalah Hak yang Harus Dijamin
Laporan Ungkap Aliran Dana Terduga Teroris Lewat Binance, Pegawai Penyelidik Malah Diberhentikan
Tren Bukber Ramadan di Makassar Beralih ke Restoran dengan Konsep Estetik
Sidang Praperadilan Yaqut Ditunda, KPK Absen di Persidangan Perdana