Greta Thunberg Serukan Boikot Dubai dan UEA, Dukung Protes untuk Sudan
Aktivis iklim Greta Thunberg secara terbuka menyerukan boikot terhadap Dubai dan Uni Emirat Arab (UEA) melalui unggahan di akun Instagramnya. Seruan ini muncul setelah keterlibatannya dalam Global Sumud Flotilla ke Gaza, yang berujung pada penangkapannya oleh Israel dan deportasi.
Pembantaian El-Fasher di Sudan Picu Gelombang Boikot UEA
Seruan boikot massal terhadap UEA dan perusahaan-perusahaannya semakin menguat di media sosial. Kemarahan global ini dipicu oleh dukungan militer Uni Emirat Arab kepada kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) dalam perang saudara di Sudan, terutama setelah pembantaian mengerikan di kota El-Fasher, Darfur.
- Masyarakat internasional mendesak boikot terhadap penerbangan, destinasi wisata, dan produk konsumen asal UEA.
- Pelanggaran HAM sistematis oleh RSF yang didukung Emirat memicu kemarahan global.
Momentum Boikot Semakin Kuat Setelah Pembantaian di El-Fasher
Kampanye boikot yang telah lama berjalan di kalangan diaspora Sudan kini mendapatkan momentum baru. Puncaknya adalah jatuhnya kota El-Fasher ke tangan RSF pada 26 Oktober, yang disertai dengan bukti-bukti visual pembantaian warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia.
Rekaman dan citra satelit yang beredar menunjukkan jalanan berlumuran darah dan kehancuran masif, semakin memicu seruan untuk memutuskan segala hubungan dengan UEA.
Dukungan Militer UEA kepada RSF Terus Didokumentasikan
Meski UEA secara resmi menyangkal, laporan dari berbagai lembaga dokumentasi konflik mengonfirmasi bahwa Abu Dhabi adalah penyokong utama RSF. Pasokan senjata dan logistik untuk paramiliter tersebut dikirim melalui jaringan kompleks yang melintasi Libya, Chad, Uganda, dan Somalia.
Sebagai tanggapan, aktivis dan warganet juga mendesak pemerintah Amerika Serikat, sebagai salah satu pemasok senjata utama UEA, untuk memberlakukan embargo senjata dan sanksi terhadap Abu Dhabi serta pimpinan RSF.
Seruan Boikot Mencakup Pariwisata dan Produk Konsumen
Gerakan boikot ini mendorong orang-orang untuk:
- Membatalkan rencana liburan ke Dubai dan Abu Dhabi.
- Menghindari produk dan merek yang terkait dengan UEA.
- Mempertimbangkan ulang kemitraan bisnis dengan perusahaan yang berbasis di Emirat.
Infografis berisi daftar merek-merek besar UEA, seperti Etihad Airways, beserta perusahaan internasional yang memiliki hubungan dengan Emirat, telah tersebar luas di media sosial dengan tagar BoycottUAE dan BoycottForSudan.
Latar Belakang Perang Saudara di Sudan
Perang di Sudan meletus pada April 2023, dipicu oleh ketegangan antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) pimpinan Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan RSF pimpinan Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti) mengenai integrasi pasukan. Konflik ini telah menewaskan puluhan ribu orang dan mengungsi lebih dari 13 juta warga.
RSF sendiri telah berulang kali dituduh melakukan pembantaian dan pelanggaran HAM berat, termasuk genosida di wilayah Darfur.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu