Boikot Dubai dan UAE: Sikap Atas Pembantaian di Sudan
Gerakan boikot terhadap Dubai dan Uni Emirat Arab (UAE) semakin menguat sebagai bentuk protes atas keterlibatan mereka dalam konflik Sudan. Banyak yang mempertanyakan, apakah boikot benar-benar berdampak bagi UAE?
Esensi dari aksi boikot global terhadap entitas yang terafiliasi, bukan semata-mata soal seberapa besar dampak ekonominya. Lebih dari itu, boikot adalah bentuk sikap dan ekspresi keyakinan. Ini adalah tindakan simbolis yang menunjukkan solidaritas, sekaligus menjadi cerminan dari selemah-lemahnya iman jika diam saja.
Laporan investigasi independen PBB telah mengungkap keterlibatan UAE dalam konflik berdarah di Sudan. Oleh karena itu, aksi boikot terhadap Dubai dan seluruh UAE merupakan respons logis dan bentuk tanggung jawab moral umat.
Ruang boikot sangatlah luas. Bukan hanya terbatas pada produk konsumsi, tetapi juga mencakup sektor jasa. Destinasi wisata seperti Dubai, yang populer di kalangan traveler Indonesia, serta penggunaan maskapai Etihad Airways, dapat menjadi target boikot yang signifikan. Dengan mengurangi dukungan ekonomi terhadap sektor-sektor ini, kita turut menyuarakan penolakan atas kekejian yang terjadi di Sudan.
(Kang Irvan Noviandana)
Artikel Terkait
Gus Umar Sindir Kaesang: Macam Betul Aja Kau Ngomong, Dulu Bilang Tak Mau Politik
Kebuntuan di Washington Picu Shutdown, Layanan Publik Terancam Lumpuh
Gus Murtadho Tuding Dukungan PBNU ke Prabowo di Forum Trump Condong ke Zionis
Wagub Sulbar Salim S. Mengga Wafat, Duka Mendalam Selimut Sulawesi Barat