Misteri Kematian Arif Nofriadi: Pesan View Once, Tali Pramuka, dan Fakta Mengejutkan Keluarga

- Jumat, 31 Oktober 2025 | 15:00 WIB
Misteri Kematian Arif Nofriadi: Pesan View Once, Tali Pramuka, dan Fakta Mengejutkan Keluarga

Catatan Redaksi: Bunuh diri bukan jalan keluar persoalan kehidupan, segera cari pertolongan atau kunjungi www.healing119.id.

Kisah meninggalnya Arif Nofriadi Jefri, siswa SMPN 2 Kota Sawahlunto, mengguncang masyarakat. Pada Senin, 6 Oktober 2025, remaja 15 tahun ini ditemukan tewas di ruang OSIS sekolahnya dengan leher terlilit tali pramuka.

Nova Rizal, penjaga sekolah dan paman korban, mengungkapkan suasana mencekam saat menemukan keponakannya. "Di dinding ada tulisan: menghapus tentangmu," kenang Nova. Arif ditemukan dalam posisi badan menyamping di lantai dekat meja, dengan tali terikat ke paku beton di dinding.

"Tali begitu erat lilitannya di leher Arif. Ada sekitar lima lilitan," tambahnya. Meski polisi menduga bunuh diri tanpa unsur kekerasan atau perundungan, keluarga menemukan kejanggalan. Menurut Nova, posisi paku hanya 10 sentimeter di atas kepala Arif, membuat tali akan kendor jika ia berdiri.

Misteri Pesan Terakhir dan Foto Sekali Lihat

Kronologi kematian Arif semakin misterius dengan pesan terakhirnya. Pukul 20.38 WIB, ia mengirim pesan WhatsApp dan foto view once kepada teman dekat perempuannya. Hanya berselang 30 menit kemudian, ia ditemukan tewas. Temannya membalas pesan tersebut dengan kalimat: "yaallah darah itu sayang".

Duka Keluarga dan Ulang Tahun yang Tak Terlaksana

Ibunda Arif, Satria Monalisa (40), syok menerima kabar kematian anak bungsunya. "Kalau masalah ekonomi, kami berkecukupan," ujarnya, menepis kemungkinan masalah finansial sebagai penyebab.

Keluarga berduka mendalam karena Arif seharusnya merayakan ulang tahun pada 1 November. "1 November, tidak ada lagi perayaan ulang tahun Adek," ucap Monalisa sambil memperlihatkan bingkai foto anaknya.

Menurut pengakuan ibu, sikap Arif mulai berubah sejak duduk di kelas VIII, terutama setelah mengenal seorang perempuan. Namun Monalisa menegaskan tidak pernah melakukan kekerasan terhadap anaknya. "Banyak orang bilang anak sering dipukul, itu tidak benar," tegasnya.

Sikap Sekolah dan Langkah Pencegahan

SMPN 2 Kota Sawahlunto memilih bersikap tertutup mengenai insiden ini. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Diana Rosa, enggan menunjukkan lokasi kejadian dengan alasan pemulihan trauma siswa. Ia menegaskan tidak ada tindakan bullying di sekolah.

Menanggapi tragedi ini, Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto mengambil langkah preventif. Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar, Sudirman, menginstruksikan peningkatan pendampingan siswa melalui peran aktif guru wali kelas.

"Kami akan rapat koordinasi mulai pemerintah atas hingga ke bawah. Camat semua akan kita undang, termasuk kepala sekolah SMP dan MTs," jelas Sudirman mengenai upaya membentengi mental peserta didik.

Hasil Penyidikan Polisi

Kapolsek Barangin, Ipda Gorrahman, memastikan tidak ada unsur perundungan dalam kasus ini. "Kami sedang buat laporan penyelidikan, hasilnya segera kami sampaikan ke keluarga. Ini dugaan arahnya ke tekanan pribadi," ungkapnya.

Polisi akan segera menyampaikan laporan lengkap penyelidikan kepada keluarga Arif untuk memberikan kejelasan mengenai penyebab kematian siswa SMPN 2 Kota Sawahlunto ini.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar