Survei Terungkap: 70% Warga Palestina Tolak Pelucutan Senjata Kelompok Perlawanan

- Jumat, 31 Oktober 2025 | 05:25 WIB
Survei Terungkap: 70% Warga Palestina Tolak Pelucutan Senjata Kelompok Perlawanan

Sebuah survei terbaru mengungkapkan bahwa mayoritas warga Palestina menolak pelucutan senjata kelompok perlawanan. Penolakan ini tetap kuat bahkan jika hal tersebut menjadi syarat untuk mencegah eskalasi konflik. Sikap ini mencerminkan konsensus nasional dalam mempertahankan hak untuk melawan pendudukan.

Survei yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Opini Publik Palestina pada 22–25 Oktober 2025 menunjukkan bahwa 70% warga Palestina menentang pelucutan senjata. Mereka menilai bahwa kekuatan bersenjata merupakan bentuk pertahanan sah terhadap agresi dan penjajahan yang masih berlangsung di wilayah tersebut.

Dukungan publik terhadap Operasi "Banjir Al-Aqsa" yang dimulai pada 7 Oktober 2023 juga mengalami peningkatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin banyak warga Palestina yang memandang perlawanan bersenjata sebagai respons yang sah terhadap pendudukan dan pelanggaran hak-hak dasar mereka.

Survei ini dilakukan secara tatap muka dengan menggunakan perangkat digital seperti tablet dan ponsel. Setiap hasil wawancara dikirim langsung ke server pusat yang hanya dapat diakses oleh tim peneliti untuk memastikan keaslian dan keamanan data yang dikumpulkan.

Lembaga tersebut melaporkan bahwa 1.270 responden terlibat dalam jajak pendapat ini. Rinciannya adalah 830 responden dari Tepi Barat (83 lokasi pemukiman) dan 440 responden dari Jalur Gaza (44 lokasi). Survei ini memiliki margin kesalahan sebesar 3,5 persen.

Hasil survei memperlihatkan bahwa meskipun hidup di bawah blokade, pendudukan militer, dan kehancuran akibat perang, rakyat Palestina tetap bersatu dalam satu suara. Mereka menolak tunduk pada tekanan eksternal yang berusaha melemahkan perlawanan dan berkomitmen untuk terus memperjuangkan kebebasan serta martabat nasional mereka.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar