Pasukan Putih menerapkan sistem jemput bola dengan mendatangi langsung warga sakit, lansia, dan difabel. Mereka bekerja sama dengan Dasawisma dan perangkat RW untuk memetakan warga yang membutuhkan.
"Dengan datang langsung ke RW dan Dasawisma, data pasien lebih cepat terkumpul. Dasawisma tahu persis per wilayahnya siapa saja yang sakit," jelas Eka tentang efektivitas sistem ini.
Kisah Sukses dan Harapan
Ika (25), anggota Pasukan Putih lainnya yang bertugas di Kelurahan Pegadungan, Kalideres, berbagi kisah sukses. Berkat koordinasi lintas sektor, seorang pasien stroke dua tahun akhirnya mendapat perawatan lanjutan.
"Kita difasilitasi perkenalan dengan Dasawisma, RT, dan RW. Ketika kita bantu rujukan, Dasawisma membantu fasilitasi ambulans dari RW," cerita Ika.
Ia juga menemui pasien diamputasi yang dirawat dengan penuh perhatian keluarga, membuktikan bahwa masih ada harapan dan kepedulian di masyarakat.
Visi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta telah melepas 584 Pasukan Putih untuk memberikan pelayanan gratis bagi masyarakat rentan. Mereka tidak hanya terlatih dalam perawatan fisik, tetapi juga pendampingan psikososial.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menekankan pentingnya peran Pasukan Putih dalam memperluas akses kesehatan hingga wilayah padat penduduk.
"Yang paling penting adalah sentuhan personal. Memandang dengan penuh mata yang berbinar-binar yang ingin menyelesaikan segala persoalan di masyarakat," pesan Pramono.
Program Pasukan Putih Jakarta ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam memberikan layanan kesehatan inklusif, terutama bagi difabel, lansia, dan warga dengan keterbatasan aktivitas harian di ibu kota.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, VinÃcius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral