Mereka Datang ke Pelosok Jakarta: Kisah Pasukan Putih yang Sentuh Hati Difabel dan Lansia Terlantar

- Rabu, 29 Oktober 2025 | 23:36 WIB
Mereka Datang ke Pelosok Jakarta: Kisah Pasukan Putih yang Sentuh Hati Difabel dan Lansia Terlantar

Pasukan Putih Jakarta: Sentuhan Kemanusiaan bagi Difabel dan Lansia Terlantar

Eka (32), seorang anggota Pasukan Putih, masih jelas mengingat pengalaman mengharukan selama pelatihan lapangannya. Ia bertugas sebagai tenaga layanan kesehatan warga di Jakarta, sebuah inisiatif Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Dalam kesaksiannya, Eka menceritakan kondisi memilukan yang ia temui di Kelurahan Kamal, Kalideres, Jakarta Barat. Seorang warga difabel terbaring tanpa daya dalam satu ruangan yang berfungsi ganda sebagai tempat tidur, makan, dan gudang barang bekas, termasuk kandang ayam dan burung.

"Pasien itu tinggal di lantai plesteran biasa, tanpa alas dan tanpa baju. Keluarga memandikannya dengan menyiram air selang langsung di tempat itu," ujar Eka menggambarkan realitas yang dihadapi warga difabel di ibu kota.

Realita Keluarga Menengah ke Bawah dan Akses Pendidikan

Wilayah tempat Eka bertugas mencerminkan kondisi masyarakat menengah ke bawah Jakarta. Banyak keluarga hidup pas-pasan, anak putus sekolah, serta warga difabel dan lansia yang menghadapi keterbatasan parah.

"Banyak anak putus sekolah di sini. Padahal sebenarnya ada program KJP (Kartu Jakarta Pintar) yang bisa mempermudah," tambah Eka, sambil mengungkapkan kegelisahannya terhadap orang tua yang terkadang membiarkan anaknya berhenti sekolah.

Peran Pasukan Putih sebagai Jembatan Kesehatan

Pasukan Putih tidak hanya membawa alat medis, tetapi juga kesabaran dan empati. Mereka berfungsi sebagai penghubung antara warga membutuhkan dengan layanan kesehatan dan sosial.

Mereka berkoordinasi dengan dokter dan perawat Puskesmas untuk memeriksa pasien yang tidak bisa berjalan. Untuk kasus urgent, mereka langsung merujuk ke fasilitas kesehatan.

"Tantangan terbesar adalah ketika keluarga sudah pasrah, terutama untuk pasien difabel yang sudah tahunan," jelas Eka.

Sistem Jemput Bola yang Efektif

Pasukan Putih menerapkan sistem jemput bola dengan mendatangi langsung warga sakit, lansia, dan difabel. Mereka bekerja sama dengan Dasawisma dan perangkat RW untuk memetakan warga yang membutuhkan.

"Dengan datang langsung ke RW dan Dasawisma, data pasien lebih cepat terkumpul. Dasawisma tahu persis per wilayahnya siapa saja yang sakit," jelas Eka tentang efektivitas sistem ini.

Kisah Sukses dan Harapan

Ika (25), anggota Pasukan Putih lainnya yang bertugas di Kelurahan Pegadungan, Kalideres, berbagi kisah sukses. Berkat koordinasi lintas sektor, seorang pasien stroke dua tahun akhirnya mendapat perawatan lanjutan.

"Kita difasilitasi perkenalan dengan Dasawisma, RT, dan RW. Ketika kita bantu rujukan, Dasawisma membantu fasilitasi ambulans dari RW," cerita Ika.

Ia juga menemui pasien diamputasi yang dirawat dengan penuh perhatian keluarga, membuktikan bahwa masih ada harapan dan kepedulian di masyarakat.

Visi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta telah melepas 584 Pasukan Putih untuk memberikan pelayanan gratis bagi masyarakat rentan. Mereka tidak hanya terlatih dalam perawatan fisik, tetapi juga pendampingan psikososial.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menekankan pentingnya peran Pasukan Putih dalam memperluas akses kesehatan hingga wilayah padat penduduk.

"Yang paling penting adalah sentuhan personal. Memandang dengan penuh mata yang berbinar-binar yang ingin menyelesaikan segala persoalan di masyarakat," pesan Pramono.

Program Pasukan Putih Jakarta ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam memberikan layanan kesehatan inklusif, terutama bagi difabel, lansia, dan warga dengan keterbatasan aktivitas harian di ibu kota.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar