Jokowi Hanya Senyum Saat Ditanya Soal Proyek Kereta Cepat Whoosh dan Utang Rp116 Triliun
Mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memberikan respons singkat berupa senyuman dan ucapan "Hmmm" ketika ditanya wartawan mengenai proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh. Momen ini terjadi di Yogyakarta pada acara Dies Natalis ke-62 Fakultas Kehutanan UGM.
Momen Jokowi Ditanya Soal Whoosh
Saat menghadiri rapat senat terbuka di UGM, Jokowi terlihat berbincang dengan tamu undangan sebelum kemudian ditemui oleh awak media. Seorang wartawan menanyakan tanggapannya mengenai isu pendanaan Whoosh yang kini tidak menggunakan APBN.
Jokowi sempat menoleh dan hanya menjawab, "Hmmm?" sambil tersenyum tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Ekspresinya dinilai menunjukkan keengganan untuk berkomentar lebih jauh mengenai isu tersebut. Ia kemudian membalikkan badan dan tidak melanjutkan obrolan.
Profil dan Kebanggaan Proyek Kereta Cepat Whoosh
Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh merupakan proyek infrastruktur strategis nasional yang dibangun pada era pemerintahan Jokowi. Proyek ini ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016.
Whoosh menjadi kebanggaan dengan kecepatan mencapai 350 kilometer per jam, sekaligus menjadi kereta cepat pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Nama Whoosh sendiri merupakan singkatan dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat.
Struktur Kepemilikan dan Pengelolaan Whoosh
Pengelola proyek Whoosh adalah PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), perusahaan patungan antara konsorsium Indonesia (PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia) dengan 60% saham dan konsorsium China melalui Beijing Yawan HSR Co Ltd dengan 40% saham.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) memimpin konsorsium PSBI dengan porsi saham 58,53%, diikuti oleh Wijaya Karya (33,36%), Jasa Marga (7,08%), dan PTPN VIII (1,03%).
Masalah Utang dan Beban Keuangan Whoosh
Proyek Whoosh kini menuai sorotan akibat utang yang mencapai Rp116 triliun. Pembiayaan proyek ini mengalami pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar 1,2 miliar dolar AS dari biaya awal yang direncanakan.
Sebanyak 75% dari total investasi proyek Whoosh didanai dari pinjaman China Development Bank, sementara sisanya berasal dari setoran modal pemegang saham. Utang ini menjadi beban berat bagi BUMN Indonesia, khususnya PT KAI sebagai pemimpin konsorsium.
Dampak Kerugian pada BUMN
PSBI mencatat kerugian senilai Rp1,625 triliun pada semester I-2025. PT KAI menanggung porsi kerugian terbesar sebesar Rp951,48 miliar per Juni 2025. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin bahkan menyebut besar utang proyek Whoosh ini bagai bom waktu yang memerlukan penanganan serius.
Proyek yang semula menjadi kebanggaan ini kini memberikan tekanan besar terhadap kinerja keuangan PT KAI dan BUMN lainnya yang terlibat dalam konsorsium.
Artikel Terkait
Ivan Toney Cetak Hat-trick, Al Ahli Hajar Al Fateh 3-1 di Liga Pro Saudi
31 Pelajar SMP di Gowa Diamankan Polisi Usai Konvoi Bawa Senjata Tajam
DWP Kemenko Perekonomian dan WBI Beri Penghargaan Kartini Muda ke Desainer Muda Pelestari Wastra Nusantara
PSG ke Final Liga Champions Usai Tumbangkan Bayern, Arsenal Jadi Lawan di Partai Puncak