Video Santri Ngesot dan Kiai Terima Amplop di Trans7 Tuai Kecaman, Dianggap Pelecehan Tradisi Islam
Tayangan konten santri melakukan gerakan ngesot sambil memberikan uang kepada kiai yang ditayangkan oleh stasiun televisi Trans7 terus mendapatkan kecaman publik. Tayangan ini dinilai bersifat tendensius dan dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap umat Islam Indonesia yang memiliki hubungan erat dengan dunia pesantren dan kiai.
Kecaman dari Mantan Ketum PBNU Said Aqil Siroj
Kecaman keras disampaikan oleh Mantan Ketua Umum PBNU sekaligus Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), Said Aqil Siroj. Secara tegas, ia mengutuk tayangan yang dinilainya mengandung narasi jahat yang menyebarkan kebencian dan mendiskreditkan dunia pesantren.
Muncul dugaan adanya sindikasi jahat yang anti terhadap pesantren dan umat Islam. LPOI pun meminta masyarakat untuk mewaspadai perkembangan sel-sel radikalisme yang diduga menyusup di berbagai lini kehidupan.
Pernyataan Sikap Resmi LPOI
Dalam keterangan persnya, Said Aqil Siroj menyatakan bahwa LPOI mengutuk keras penyebarluasan narasi negatif terhadap pesantren dan seluruh ekosistemnya. Menurutnya, pembuatan video semacam itu bukan hanya sekadar menyebar kebencian, tetapi juga menjadi bukti bahwa sel-sel radikalisme telah menyusup ke berbagai sektor.
Kiai Said menegaskan bahwa sel-sel radikalisme tersebut berusaha menghancurkan pesantren sebagai salah satu pilar penting bangsa. Hal ini juga dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap umat Islam. "Mereka berusaha menghilangkan peran pesantren, pimpinannya, serta umat Islam, yang secara nyata telah berjasa, berjuang, dan berkontribusi pada kemerdekaan Indonesia," ujar Kiai Said.
Dugaan Character Assassination Terstruktur
Sebagai Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Kiai Said menduga ada upaya character assassination atau pembunuhan karakter yang terstruktur dan sistematis untuk menghancurkan dunia pesantren. Menurutnya, upaya semacam ini tidak boleh dibiarkan karena berpotensi menimbulkan kegaduhan berkepanjangan dan konflik horizontal yang dapat mengganggu stabilitas nasional.
Dia menegaskan bahwa negara harus hadir dan bersikap tegas dalam melindungi pesantren. Pelaku tidak boleh dibiarkan lepas hanya dengan meminta maaf. Kiai Said menekankan bahwa kesengajaan dalam tindakan tersebut sudah cukup sebagai alat bukti untuk ditindak tegas, guna mencegah terulangnya upaya jahat merusak citra pesantren dan umat Islam.
Peran dan Kontribusi Pesantren bagi Bangsa
Kiai Said yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren di Jakarta menjelaskan bahwa pesantren telah eksis sejak sebelum kemerdekaan. Pesantren memiliki kontribusi nyata dalam mencerdaskan masyarakat, memperjuangkan kemerdekaan, memberdayakan umat, dan aktif dalam pembangunan bangsa.
Pesantren juga berperan sebagai problem solver atas berbagai realitas kebangsaan Indonesia. "Jangan disepelekan, ada 24 ribuan jejaring pesantren dan potensi umat Islam adalah kekuatan sosial yang nyata," tegasnya. Kiai Said mengingatkan agar umat Islam tidak sampai perlu melakukan perlawanan terhadap kejahatan informasi dan pemberitaan.
Pesantren sebagai Penjaga Nilai dan Tradisi Bangsa
Kiai Said menegaskan bahwa pesantren dan ekosistemnya adalah kekuatan independen dengan tradisi dan sistem nilai tinggi dalam mendidik mental spiritual generasi bangsa. Budaya penghormatan terhadap guru dan sesepuh bukanlah hal yang naif, karena dari situlah lahir ikatan sosial yang mampu menggerakkan kepatuhan sosial.
Kepatuhan sosial ini dapat menjadi modal sosial bagi negara dalam membangun keteraturan sosial, yang pada akhirnya bermanfaat untuk menjaga stabilitas nasional. "Budaya andap asor (rendah hati) dan sopan santun adalah akhlak bangsa Indonesia yang harus lestari, bukan malah dihancurkan dengan narasi jahat," tuturnya.
Tradisi Kedermawanan dan Gotong Royong di Pesantren
Kiai Said juga menyoroti tradisi kedermawanan dan solidaritas sosial di lingkungan pesantren yang mencerminkan budaya berbagi dan gotong royong. Apabila seorang pimpinan pesantren menerima sesuatu, hal itu biasanya tidak untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kemaslahatan pesantren dan para santri.
Banyak pembangunan dan pendidikan di pesantren yang dilakukan secara swadaya dan mandiri. Bahkan, tak sedikit santri yang dibebaskan dari biaya pondok sebagai wujud kepedulian sosial.
Sumber: Murianetwork.com
Artikel Terkait
Anies Baswedan: Guru yang Beri Inspirasi dan Nilai Tak Tergantikan oleh AI
Pemkot Brebes Ancam Pecat ASN yang Bolos 12 Hari Tanpa Keterangan
PTDI Klaim Pesawat N-219 Solusi Tepat untuk Konektivitas Daerah Terpencil dan Kepulauan
Polda Kepri Bongkar Impor Ilegal Ratusan Pakaian dan Sepatu Bekas Asal Singapura, Tiga Tersangka Diamankan