Dalam sejarah intelektual Indonesia, Prof. Sumitro Djojohadikusumo dikenal sebagai salah satu arsitek utama pembangunan ekonomi nasional. Sebagian besar orang mengenalnya sebagai ekonom, menteri, dan pendiri Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Namun, perjalanan intelektualnya tidak hanya dibentuk oleh pendidikan ekonomi di Erasmus University, Rotterdam. Salah satu fase yang paling menentukan justru terjadi ketika ia melanjutkan studi filsafat dan sejarah di Universitas Sorbonne, Paris, pada 1937–1938.
Meskipun masa studinya di Sorbonne relatif singkat, pengalaman tersebut memperluas cakrawala berpikir Sumitro. Ia tidak hanya mempelajari sejarah dan filsafat, tetapi juga menyaksikan secara langsung pergolakan politik Eropa menjelang Perang Dunia II. Lingkungan akademik Paris mempertemukannya dengan gagasan-gagasan tentang demokrasi, sosialisme, nasionalisme, dan anti-fasisme yang kemudian memengaruhi pandangan ekonominya ketika kembali ke Indonesia.
Belajar Filsafat dan Sejarah
Setelah menyelesaikan program sarjana ekonomi di Netherlands School of Economics, Rotterdam, Sumitro memilih untuk memperdalam ilmu filsafat dan sejarah di Sorbonne. Keputusan ini menunjukkan bahwa ia tidak ingin menjadi ekonom yang hanya menguasai teori-teori teknis, melainkan memahami akar historis dan filosofis dari persoalan ekonomi.
Di Sorbonne, ia mempelajari perkembangan peradaban Eropa, sejarah politik modern, serta berbagai aliran filsafat yang sedang berkembang pada masa itu. Pendidikan humaniora tersebut melengkapi dasar ekonomi yang telah diperolehnya di Rotterdam sehingga cara berpikirnya menjadi lebih multidisipliner.
Menyaksikan Krisis Politik Eropa
Ketika Sumitro berada di Paris, Eropa sedang memasuki masa yang penuh ketegangan. Fasisme berkembang di Jerman dan Italia, Perang Saudara Spanyol masih berlangsung, sedangkan ancaman perang dunia semakin nyata.
Atmosfer tersebut memberikan pelajaran penting bahwa persoalan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari politik dan institusi negara. Sumitro melihat secara langsung bagaimana krisis ekonomi dapat melahirkan ekstremisme politik apabila negara gagal menciptakan kesejahteraan masyarakat.
Pengalaman ini membentuk keyakinannya bahwa pembangunan ekonomi harus berjalan beriringan dengan demokrasi, stabilitas politik, dan kelembagaan yang kuat.
Ketertarikan terhadap Perang Saudara Spanyol
Dalam autobiografinya, Sumitro menceritakan bahwa ketika berada di Eropa ia memiliki keinginan untuk bergabung dengan Brigade Internasional yang membantu pemerintah Republik Spanyol melawan pasukan Jenderal Francisco Franco. Ia bahkan sempat mendatangi kamp pelatihan di Catalonia. Namun, keinginannya tidak terwujud karena dianggap masih terlalu muda untuk diterima sebagai sukarelawan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa ketertarikan Sumitro terhadap politik bukan sekadar akademis. Ia memiliki simpati terhadap perjuangan melawan fasisme dan menunjukkan kepedulian terhadap nilai-nilai demokrasi serta kebebasan.
Berinteraksi dengan Lingkungan Intelektual Paris
Paris pada akhir 1930-an merupakan salah satu pusat intelektual dunia. Sorbonne menjadi tempat berkumpulnya para filsuf, sejarawan, ekonom, dan ilmuwan dari berbagai negara.
Berbagai biografi Sumitro menyebutkan bahwa selama berada di Prancis ia berinteraksi dengan lingkungan intelektual dan kelompok-kelompok pemikiran progresif. Sejumlah sumber bahkan menyebut ia mengenal tokoh-tokoh seperti André Malraux dan mengikuti diskusi-diskusi yang dipengaruhi gagasan sosialisme Eropa. Pengalaman tersebut memperluas pandangannya mengenai hubungan antara negara, pasar, dan masyarakat.
Membentuk Cara Pandang Ekonomi
Studi di Sorbonne memberikan pengaruh besar terhadap pendekatan ekonomi Sumitro. Ia mulai melihat bahwa ilmu ekonomi tidak hanya berbicara mengenai produksi, perdagangan, atau keuangan negara, tetapi juga mengenai manusia, sejarah, dan struktur sosial.
Ketika kembali ke Rotterdam untuk menyelesaikan program doktoralnya, pendekatan multidisipliner tersebut tercermin dalam disertasinya mengenai sistem kredit rakyat pada masa depresi. Penelitiannya tidak sekadar menghitung variabel ekonomi, tetapi juga menjelaskan bagaimana struktur ekonomi kolonial memengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia.
Pengaruh terhadap Pemikiran Ekonomi Indonesia
Pengalaman intelektual di Sorbonne kemudian terlihat dalam berbagai kebijakan yang dirancang Sumitro setelah Indonesia merdeka.
Beberapa gagasan yang dapat ditelusuri berasal dari pembentukan intelektualnya di Paris antara lain: pentingnya negara sebagai pengarah pembangunan ekonomi; perlunya industrialisasi nasional; pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi; perlunya perencanaan ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan; serta keseimbangan antara mekanisme pasar dan intervensi pemerintah.
Pandangan tersebut kemudian melahirkan berbagai kebijakan seperti Program Benteng, gagasan industrialisasi nasional, serta pengembangan lembaga pendidikan ekonomi modern di Indonesia.
Masa studi Sumitro Djojohadikusumo di Sorbonne bukan sekadar episode akademik dalam perjalanan hidupnya, melainkan fase pembentukan intelektual yang sangat menentukan. Di Paris ia mempelajari filsafat dan sejarah, menyaksikan langsung dinamika politik Eropa menjelang Perang Dunia II, memperluas jejaring intelektual, serta mengembangkan cara berpikir yang memadukan ekonomi dengan sejarah, politik, dan kemanusiaan.
Pengalaman tersebut menjelaskan mengapa setelah kembali ke Indonesia Sumitro tampil bukan hanya sebagai ekonom teknokrat, tetapi juga sebagai pemikir pembangunan yang melihat ekonomi sebagai instrumen untuk membangun bangsa, memperkuat institusi negara, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dengan demikian, Sorbonne menjadi salah satu fondasi penting yang membentuk karakter intelektual Sumitro Djojohadikusumo sebagai bengawan ekonomi Indonesia.
Artikel Terkait
Airlangga: Fundamental Ekonomi Tetap Kuat Meski Rupiah Tembus Rp18.000 per USD
Kadin Gelar Diplomatic Breakfast, 34 Dubes Hadir Bahas Ekonomi RI
Anies Soroti Ekonomi dan Demokrasi Indonesia yang Semakin Memburuk
Pemerintah Klaim Ekonomi Nasional Tetap Kuat di Tengah Ketidakpastian Global