Dalam dunia karang-mengarang Barat, Shakespeare dan James Joyce dikenal sebagai ahli memadatkan durasi kejadian dalam cerita. Di Nusantara, Prabowo Subianto melakukan hal serupa, bahkan lebih canggih. Ia memadatkan mutasi genetik dan ekonomi suatu kaum yang di tempat lain memerlukan berabad-abad menjadi proses tiga babak dalam sepekan.
Babak I: Kekebalan Moneter
"Orang desa tidak pakai dolar, kok," katanya. Pernyataan ini dalam sekejap menjungkirbalikkan semua teori ekonomi. Orang desa berubah dari manusia biasa menjadi makhluk yang hidup dari fotosintesis, seperti tumbuh-tumbuhan, dan bertransaksi dengan sistem barter daun talas.
Babak II: Revolusi Telur Ayam
Meskipun orang desa hidup dari fotosintesis, Prabowo ingin mereka makan telur dan daging ayam. Ia tidak bisa melihat penduduk desa menjalani hidup mengenaskan dan terus tertinggal di wilayah prasejarah. Maka dia memberikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke orang-orang desa. "Yang tak setuju duduk saja diam-diam," katanya. Hasilnya luar biasa. Sebelum program ini, orang-orang prasejarah hanya mengenal telur dinosaurus. "Sejak MBG, orang-orang desa menjadi tahu bahwa di dunia ini ada telur dan daging ayam," kata seorang pedagang ular. Berkat sebutir telur, Prabowo membawa peradaban pedesaan melompat jauh dari Zaman Batu langsung ke Zaman Protein.
Babak III: Langit Cerah di Paris
Keajaiban sejati akhirnya tiba. Prabowo baru saja mengumumkan kabar gembira: "Banyak petani yang bisa berlibur ke luar negeri. Petani kini sejahtera!" Ini mengharukan. Pekan lalu mereka tidak kenal dolar. Dua hari lalu mereka masih berkutat dengan stunting dan kesulitan berhitung. Hari ini mereka sedang mengantre di depan Museum Louvre, berfoto di jalan-jalan kota Paris, merayakan ulang tahun di bawah Menara Eiffel. Beberapa orang tampak sedang menukar rupiah mereka dengan Euro mereka tetap tidak pakai dolar.
Epilog
Melihat keberhasilannya sendiri, Prabowo mengepalkan tangan ke udara dan bersyukur dari lubuk hati: "Hidup Jokowiiii!"
Artikel Terkait
Prabowo Tak Mau Campuri Kasus Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Setelah 30 Tahun Terabaikan, Irigasi di Banten Dibangun dengan Dana Rp 985 Miliar
Bakom: Pemberantasan Korupsi di Kejagung Bukan Tergantung Satu Orang
KSP: Prabowo Tak Suka Birokrasi Berbelit, Instruksikan Kerja Cepat untuk Rakyat