Gubernur Jakarta Pramono Anung dan Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat sepakat bahwa gagasan Marhaenisme perlu diimplementasikan secara konkret, bukan hanya menjadi diskusi tanpa ujung. Keduanya menyampaikan hal itu dalam peluncuran dan diskusi buku "Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z" karya Airlangga Pribadi Kusman dan Rocky Gerung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu (4/7).
Pramono menekankan pentingnya ruang publik untuk mendiskusikan Marhaenisme. "Terakhir dari saya, apa yang digagas oleh Mas Erlangga dan Bung Rocky untuk membuka ruang publik diskusi tentang Marhaenisme," ujarnya. Ia menambahkan, esensi dasar dari Marhaenisme adalah semangat bagi mereka yang diberi kesempatan untuk mengambil keputusan guna memperbaiki bangsa dari lapisan paling bawah.
Menurut Pramono, tantangan terbesar selama ini adalah mewujudkan gagasan Marhaenisme dalam kebijakan nyata. "Seringkali kita bercerita Marhaenisme tentang semangat Bung Karno-nya… Tetapi esensi dasar adalah bagaimana semangat untuk kita semua yang diberikan kesempatan bisa mengambil keputusan untuk memperbaiki bangsa ini dari lapis yang paling bawah," katanya.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur menilai bahwa setelah 80 tahun Indonesia merdeka, kesejahteraan kaum Marhaen masih menjadi pekerjaan rumah. "Boleh jadi 80 tahun Indonesia merdeka, tapi jujur ada kegagalan bagaimana menyejahterakan Marhaen. Kita harus jujur," tegasnya.
Peluang dari Perdagangan Karbon
Jumhur melihat perdagangan karbon sebagai peluang baru untuk menyejahterakan Marhaen. Indonesia, sebagai negara dengan hutan tropis terluas di dunia, menikmati keuntungan dari mekanisme ini. Negara yang kelebihan produksi karbon harus membeli kuota dari negara yang mampu menekan emisinya.
"Nah, sekarang ada kesempatan baru Pak Gubernur, namanya perdagangan karbon," ujar Jumhur. Ia mengusulkan kepada Pramono untuk membangun instrumen penyerapan karbon di kawasan Bantar Gebang guna menghilangkan gas metana yang dampaknya 32 kali lebih berbahaya dari CO2. "Bisa juga begini, kayak misalnya Bantar Gebang. Bantar Gebang itu Pak Pram, kalau Pak Pram bisa menghilangkan gas metan yang jahatnya 32 kali dari CO2, begitu dihilangkan, entah itu ditutup oleh biopori apalah gitu ya istilahnya, langsung nol, itu bisa ratusan miliar harganya Pak," jelasnya.
Keuntungan ratusan miliar dari perdagangan karbon itu, menurut Jumhur, harus dinikmati oleh lapisan bawah, yaitu kaum Marhaen. "Nah, saya pengin uang-uang ini tidak dimanfaatkan oleh hanya kalangan elit, tapi bagaimana kaum Marhaen yang ada di sana itu bisa ikut berbahagia. Kira-kira itu," tutupnya.
Artikel Terkait
Menteri LH Sebut Potensi Perdagangan Karbon di TPST Bantargebang Capai Ratusan Miliar
Pramono Anung: Tiga Sektor Ini Tak Boleh Dipangkas Anggarannya di Jakarta
Pramono Minta Tambahan Kuota Sekolah Rakyat untuk Anak Jalanan dan Broken Home
Pramono Anung Tegaskan Penanganan Pengungsi WNA di Trotoar Bukan Kewenangan Pemprov DKI