Kemenkes Kirim Tim Investigasi ke NTT Usai Dokter Icha Meninggal Diduga Diintimidasi Anggota DPRD

- Senin, 29 Juni 2026 | 17:48 WIB
Kemenkes Kirim Tim Investigasi ke NTT Usai Dokter Icha Meninggal Diduga Diintimidasi Anggota DPRD

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengirimkan tim inspektorat investigasi untuk menyelidiki kasus meninggalnya dr. Elisa Princilia Utami Pakaenoni, atau yang akrab disapa dokter Icha, di Rumah Sakit Leona, Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. Dokter Icha diduga mengakhiri hidupnya setelah mendapat intimidasi dari tiga orang anggota DPRD setempat.

Ketua tim Kemenkes, dr. Yuli Ferianti, menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian dokter Icha. “Kami mengucapkan kesedihan mendalam atas kepergian dokter Icha. Sebagai tim investigasi kami akan melakukan investigasi mendalam. Nanti hasilnya akan dipublikasikan ke media,” ujarnya di Kefamenanu, Senin (29/6). Ia menambahkan bahwa pihaknya telah bertemu dan melaporkan kasus ini kepada Gubernur NTT. “Hasil investigasinya belum ada, tim sedang bekerja,” tandasnya. Tim akan mendalami dugaan intimidasi yang diterima oleh dokter Icha tersebut.

Kasus ini menjadi sorotan publik setelah terungkap sejumlah perkembangan, mulai dari dugaan intimidasi oleh tiga anggota DPRD Kabupaten TTU, penyelidikan polisi, hingga langkah pemerintah daerah dan Kemenkes. Pihak keluarga menduga dokter Icha mengalami depresi berat setelah mendapat intimidasi dari tiga anggota DPRD terkait penanganan seorang pasien yang mengalami gigitan ular hijau.

“Mereka dalam keadaan mabuk saat masuk ke ruang UGD,” ungkap paman dr. Icha, Fabi Banase, Sabtu (27/6). Fabi menyebut tiga anggota DPRD yang dimaksud ialah Veronika Lake dari PDI Perjuangan, Therensius Lazakar dari Partai Golkar, dan Norbertus Tubani dari PKB. “Salah satu di antara mereka berucap dengan nada tinggi, ‘Kau akan bertemu saya di Komisi III’,” tambah Fabi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan kejiwaan yang diterima keluarga, dokter Icha didiagnosis mengalami episode depresi berat tanpa gejala psikotik.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags