Pernahkah Anda membuka buku di akhir pekan, berniat membaca, tetapi baru beberapa halaman tiba-tiba tangan sudah membuka TikTok, Instagram, atau Netflix? Buku pun ditutup, dan tanpa sadar satu-dua jam berlalu untuk scrolling tanpa arah. Atau mungkin Anda pernah membaca beberapa halaman, tetapi tidak ingat apa isinya. Banyak orang menganggap itu tanda malas. Padahal, belum tentu. Bisa jadi, otak kita sedang beradaptasi dengan kebiasaan baru di era digital. Kabar baiknya, kemampuan fokus dan berpikir mendalam masih bisa dilatih kembali. Salah satu cara paling sederhana adalah melalui membaca.
Bayangkan otak sebagai sebuah kota tua. Selama ratusan ribu tahun, kota itu memiliki jalan untuk berbicara, mendengar, melihat, dan bertahan hidup. Namun sekitar 6.000 tahun lalu, manusia menemukan sesuatu yang benar-benar baru: membaca. Masalahnya, otak tidak pernah dirancang untuk membaca. Tidak ada gen khusus yang membuat kita otomatis bisa melakukannya. Setiap kali seorang anak belajar membaca, otaknya harus membangun jalur baru yang menghubungkan kemampuan melihat, memahami bahasa, mengingat, hingga berpikir. Inilah yang dijelaskan oleh neurosaintis Maryanne Wolf. Menurutnya, membaca merupakan penemuan budaya yang relatif baru sehingga otak harus memanfaatkan neuroplastisitas kemampuan membentuk hubungan baru antarsel saraf agar aktivitas membaca menjadi mungkin.
Saat kita membaca, otak tidak hanya mengenali huruf. Ia juga menghubungkan kata dengan pengalaman, emosi, ingatan, dan penalaran dalam waktu yang hampir bersamaan. Tidak heran jika membaca terasa melelahkan. Bukan karena kita kurang cerdas atau malas, melainkan karena otak sedang melakukan pekerjaan yang sangat kompleks. Namun justru di situlah manfaatnya. Seperti otot yang semakin kuat karena sering dilatih, otak yang terbiasa membaca akan semakin terampil berkonsentrasi, berpikir runtut, mengendalikan impuls, dan memahami persoalan rumit. Membaca bukan sekadar hobi. Ia adalah latihan bagi otak.
Doomscrolling dan Jalan Pintas Otak
Kebiasaan doomscrolling membuat otak terbiasa berpindah dari satu informasi ke informasi berikutnya. Bayangkan otak sebagai jaringan jalan. Jalan yang setiap hari dilewati akan semakin lebar dan mulus. Sebaliknya, jalan yang jarang digunakan perlahan menyempit hingga nyaris menghilang. Begitulah cara otak bekerja: jalur yang sering digunakan akan semakin kuat. Lalu, jalur mana yang sedang kita latih setiap hari? Saat kita menghabiskan waktu berjam-jam menggulir media sosial, menonton video pendek, atau berpindah dari satu konten ke konten lain, otak sedang memperkuat jalur untuk memproses informasi dengan cepat. Sebaliknya, jalur yang dibutuhkan untuk membaca dengan tenang, berkonsentrasi, dan memahami gagasan kompleks semakin jarang digunakan.
Fenomena ini dijelaskan oleh Maryanne Wolf bersama Catherine Ullman-Shade dan Stephanie Gottwald melalui konsep partial attention, atau perhatian yang terpecah. Sederhananya, otak menjadi terbiasa berpindah dari satu informasi ke informasi berikutnya tanpa benar-benar memprosesnya secara mendalam. Sedikit membaca, melihat gambar, beralih ke video, membuka komentar, lalu berpindah lagi. Semua berlangsung sangat cepat. Semakin sering pola ini diulang, semakin otak menganggap bahwa itulah cara paling efisien untuk memperoleh informasi. Akibatnya, kita mulai kesulitan bertahan membaca tulisan panjang atau memahami ide kompleks. Bukan karena kemampuan berpikir kita hilang, tetapi karena otak lebih sering dilatih untuk berpikir cepat daripada berpikir mendalam.
Inilah alasan Maryanne Wolf menekankan pentingnya deep reading. Membaca secara perlahan memberi kesempatan kepada otak untuk menganalisis, menghubungkan berbagai informasi, merefleksikan makna, bahkan memahami sudut pandang orang lain. Semakin sering kemampuan ini dilatih, semakin kuat pula jalur yang mendukung konsentrasi, penalaran, dan empati. Sebaliknya, jika seluruh waktu kita habiskan untuk arus informasi serba cepat, kita mungkin akan semakin mahir scrolling layar, tetapi semakin sulit benar-benar memahami apa yang kita baca.
Membaca dan Kemampuan Memahami Orang Lain
Mungkin sampai di sini Anda berpikir, "Kalaupun saya jadi lebih sulit fokus saat membaca, apa hubungannya dengan cara saya berinteraksi dengan orang lain?" Ternyata, hubungannya cukup besar. Membaca tidak hanya melatih kemampuan memahami tulisan. Ia juga melatih kemampuan memahami manusia. Dalam psikologi, kemampuan ini dikenal sebagai Theory of Mind kesadaran bahwa setiap orang memiliki pikiran, perasaan, pengalaman, dan sudut pandang yang bisa berbeda dari kita. Kemampuan inilah yang membuat kita mampu berempati, memahami alasan di balik tindakan seseorang, atau menangkap makna yang tidak diucapkan secara langsung.
David Kidd dan Emanuele Castano menemukan bahwa orang yang membaca fiksi sastra memiliki kemampuan Theory of Mind yang lebih baik dibandingkan mereka yang membaca jenis bacaan lain. Alasannya sederhana: ketika membaca sebuah novel, kita tidak hanya mengikuti alur cerita. Kita ikut mencoba memahami isi kepala para tokohnya. Kita menebak apa yang mereka rasakan, mengapa mereka mengambil keputusan tertentu, atau mengapa mereka mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang sebenarnya mereka pikirkan. Tanpa sadar, kita sedang melatih kemampuan yang sama yang kita gunakan setiap hari saat berinteraksi dengan orang lain. Sebaliknya, sebagian besar konten digital memberi kita informasi dalam bentuk serba cepat. Reaksi cukup diwakili emoji, pendapat disampaikan dalam beberapa kalimat, lalu kita segera berpindah ke konten berikutnya. Jarang ada ruang untuk berhenti, merenung, atau mencoba melihat persoalan dari sudut pandang berbeda. Mungkin karena itulah kita menjadi lebih mudah salah paham, lebih cepat tersinggung, atau tergesa-gesa menilai seseorang hanya dari potongan informasi yang kita lihat.
Membaca sebagai Brain Care di Era Doomscrolling
Kabar baiknya, otak tidak berhenti belajar. Kemampuan otak untuk berubah neuroplastisitas membuat jalur-jalur yang mulai jarang digunakan masih bisa diperkuat kembali. Dengan kata lain, kemampuan membaca mendalam dapat dilatih lagi. Maryanne Wolf menjelaskan bahwa deep reading bukan sekadar menyelesaikan halaman demi halaman. Membaca mendalam berarti memberi waktu kepada otak untuk memahami, merenungkan, dan menghubungkan apa yang kita baca dengan pengalaman serta pengetahuan yang sudah kita miliki. Semakin sering kita melakukannya, semakin kuat pula kemampuan untuk berkonsentrasi, berpikir kritis, mengendalikan impuls, dan memahami orang lain.
Lalu, bagaimana memulainya? Tidak perlu langsung membaca buku yang tebal atau sulit. Mulailah dari bacaan yang memang Anda sukai, tetapi tetap memberi tantangan untuk berpikir. Luangkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit tanpa gangguan notifikasi. Kalau menemukan bagian yang sulit dipahami, jangan buru-buru melewatinya. Justru pada saat itulah otak sedang bekerja membangun koneksi-koneksi baru. Kalau memungkinkan, ceritakan kembali apa yang Anda baca kepada teman atau tuliskan beberapa hal yang Anda pelajari. Cara sederhana ini membantu otak memperkuat pemahaman sekaligus membuat isi bacaan lebih mudah diingat.
Teknologi bukanlah musuh. Media sosial, video pendek, maupun kecerdasan buatan telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Yang perlu kita jaga adalah bagaimana kita menggunakannya, agar otak tidak hanya terbiasa berpikir cepat, tetapi juga tetap mampu berpikir mendalam. Di sinilah membaca mengambil perannya. Membaca bukan sekadar cara mengisi waktu luang. Setiap kali kita meluangkan waktu untuk membaca dengan tenang, otak sedang melatih kembali kemampuan yang perlahan terkikis oleh budaya doomscrolling: kemampuan untuk fokus, memahami gagasan kompleks, mengendalikan impuls, dan melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Berbagai temuan dalam neurosains dan psikologi menunjukkan bahwa membaca bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membantu menjaga cara otak bekerja. Ia memperkuat jalur-jalur yang mendukung konsentrasi, penalaran, refleksi, dan empati kemampuan yang semakin penting di tengah banjir informasi serba cepat. Mungkin itulah mengapa membaca layak disebut sebagai brain care. Bukan karena ia mampu menyembuhkan otak secara ajaib, melainkan karena ia merawat kemampuan-kemampuan kognitif yang membuat kita tetap mampu berpikir jernih, memahami sesama, dan mengambil keputusan dengan lebih bijaksana. Kita mungkin tidak bisa menghentikan dunia yang terus bergerak semakin cepat. Namun kita selalu bisa memilih untuk berhenti sejenak, membuka sebuah buku, dan memberi otak kesempatan untuk melakukan apa yang selama ribuan tahun membuat manusia terus berkembang: belajar, berpikir, dan memahami.
Artikel Terkait
Mahasiswi Ditemukan Tewas di Kos, Diduga Akibat Sakit Jantung
Belanda vs Maroko di 32 Besar Piala Dunia 2026: Duel Hidup Mati di Monterrey
Istri Kakek Pemilik Bengkel di Purwokerto Jadi Tersangka Pembunuhan Suami
Balap Liar di JLNT Antasari Viral, Polisi Evaluasi Buka-Tutup Jalan Malam Hari