Riset 150 Tahun Ungkap Generasi Z dan Milenial Lebih Bodoh dari Pendahulunya, Ilmuwan Sebut Malapetaka Kognitif

- Senin, 27 April 2026 | 15:00 WIB
Riset 150 Tahun Ungkap Generasi Z dan Milenial Lebih Bodoh dari Pendahulunya, Ilmuwan Sebut Malapetaka Kognitif

Hamid Basyaib, seorang intelektual, baru-baru ini mengangkat temuan riset dari sebuah universitas ternama di Amerika Serikat. Penelitian itu dipimpin oleh Dr. Jared Cooney Horvath. Hasilnya? Cukup bikin geleng-geleng kepala. Bahkan, katanya, ini semacam tamparan keras buat kita semua.

Riset itu dipresentasikan di depan Kongres Amerika. Isinya mengejutkan. "Generasi sekarang yang kita sebut Gen Z, bahkan Milenial ternyata, secara kasar, lebih bodoh dari generasi sebelumnya," ujar Hamid dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (26/04/2026). Ia menyampaikan ini kepada terusterang.id.

Nah, yang bikin luar biasa, menurut Hamid, adalah fakta bahwa ini pertama kalinya dalam sejarah umat manusia generasi terbaru kalah pintar dari generasi yang melahirkannya. Sejak akhir abad ke-18, konsisten banget setiap generasi selalu lebih cerdas dari pendahulunya. Data itu berjalan sekitar 1,5 abad, dan semua orang setuju. Tapi sekarang, tren itu patah.

"Bayangkan," kata Hamid lagi, "mungkin sudah kira-kira 1,5 abad data itu diikuti dan sampai pada kesimpulan yang gamblang. Semua orang setuju, kurang lebih bisa membuktikan, bahwa generasi terbaru selalu lebih maju sedikit walau sedikit ya tapi lebih pintar. Sekarang, enggak."

Menurutnya, penelitian ini mencengangkan. Harusnya ini jadi alarm buat kita semua orang tua, bahkan diri kita sendiri. Ada sesuatu yang mengkhawatirkan pada generasi baru ini, terutama Gen Z dan sedikit Generasi Y. Setelah penelitian panjang selama 150 tahunan, tiba-tiba kecerdasan umum atau kognitif manusia malah menurun. Mereka menyebutnya dengan istilah yang nggak kalah serem: Cognitive Catastrophe.

"Artinya malapetaka pikiran, malapetaka kecerdasan, bencana besar tentang kemampuan manusia dalam berpikir," jelas Hamid. "Kenapa ini terjadi? Mereka menuding salah satu faktor penting di sini adalah overdependence ketergantungan berlebih pada digital, internet, segala macam itu."

Di sisi lain, Hamid mengakui, kita memang nggak bisa mengabaikan manfaat internet yang luar biasa hebat. Bersyukur banget, sebenarnya, bisa mengalami periode di mana kita nggak harus menulis manual yang dulu bikin repot. Sekarang, dengan perangkat digital, kerja-kerja profesional jadi super gampang. Bahkan, satu panel di PBB menobatkan internet spesifik jaringan WWW sebagai prestasi kultural terbesar umat manusia. Jadi, memang hebat. Itu badan PBB yang mengakuinya, dan itu benar.

Tapi, ternyata ada soal lain. Dan soalnya nggak kalah serius. "Tinggal kita timbang mana manfaat dan mudarat," ujar Hamid. "Yang jelas, mudaratnya seperti tadi: terjadi overdependence, baik untuk keperluan profesional maupun personal."

Ketergantungan ekstrem pada digital ini, lanjutnya, sudah sampai ke level hidup personal orang-orang atau keluarga-keluarga. Efeknya? Menumpulkan pikiran. Soalnya, semua mau serba cepat. Apalagi mereka yang belum terbiasa baca buku. Bagi yang sudah terlanjur biasa membaca buku puluhan halaman, mungkin nggak terlalu keberatan. Tapi buat anak muda SD, SMP, SMA kebiasaan baca yang sehat belum terbentuk.

"Mereka sudah dibanjiri informasi yang berkelimpahan disebut overload information dari media sosial dan sebagainya," kata Hamid. "Belum kita sebut soal moralistik seperti dikeluhkan banyak orang: orang ngomong kasar, sembarangan di media sosial. Tapi ini ada aspek lain yang juga nggak kalah serem, yaitu tumpulnya kecerdasan anak-anak ketika terlalu banyak bergantung pada digital life."

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar