Joko Anwar lagi-lagi bikin kejutan. Lewat film terbarunya, Ghost in the Cell, sutradara itu kembali membuktikan bahwa horor Indonesia punya banyak cerita untuk digali. Film ini sudah bisa dinikmati di bioskop sejak 16 April lalu, dan antrean panjang di jaringan seperti XXI atau CGV di hari pertama jadi bukti awal ketertarikan penonton.
Tanggapan langsung dari penonton pun berdatangan. Salah satunya dari akun X, @feelssxmmer, yang memberi nilai sempurna.
“10/10, adegan gore-nya terasa elegan. Jarang ada film Indonesia yang menampilkan adegan eksplisit dengan pendekatan seartistik Ghost in the Cell, menurut saya,”
Ulasan itu dikutip Jumat (17/4). Memang, film ini bukan horor biasa. Alih-alih mengandalkan jumpscare murahan, Joko Anwar menyajikan sesuatu yang lebih gelap, intens, dan sarat dengan lapisan kritik sosial yang membuat penonton berpikir.
Hebatnya, gebrakan ini tak cuma disambut di dalam negeri. Pasar internasional pun menaruh perhatian serius. Ghost in the Cell dijadwalkan rilis di 86 negara! Mulai dari Amerika Serikat, India, sampai sejumlah wilayah Eropa. Sebuah pencapaian yang jelas mempertegas posisi industri film kita di mata dunia.
Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube The Talkies With Bayu & Edoy, Joko Anwar sedikit membongkar inspirasinya.
“Indonesia itu begitu absurd, sampai kita kadang tidak tahu harus menyikapinya bagaimana. Karena itu, saya mencoba membuat skenario yang juga bisa menangkap realitas tersebut,”
Lalu, seperti apa cerita film ini? Intinya, kita diajak masuk ke dalam kehidupan penjara yang keras dan tanpa ampun. Lingkungan lembaga pemasyarakatan digambarkan penuh tekanan, kekerasan, dan konflik antar napi yang tiada henti.
Semua ketegangan itu memuncak saat seorang tahanan baru mantan jurnalis dengan masa lalu kelam masuk ke dalam sistem yang sudah rapuh. Sejak kedatangannya, serangkaian kematian misterius mulai terjadi. Para napi tewas dalam kondisi yang tidak wajar, memicu ketakutan yang perlahan tapi pasti menyebar bagai virus.
Teror yang muncul diyakini bukan sekadar kebetulan. Kekuatan gaib diduga kuat berkeliaran, menargetkan individu dengan sisi gelap paling dominan. Dalam situasi penuh ancaman itu, para penghuni penjara dipaksa berhadapan dengan diri mereka sendiri. Mereka berusaha mengendalikan emosi, memperbaiki sikap, bahkan mendekatkan diri pada spiritualitas sebagai cara bertahan. Tapi, tentu saja, perubahan semacam itu tidak mudah diwujudkan di tengah realitas penjara yang brutal.
Film ini diperkuat oleh jajaran pemain papan atas. Ada Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, Lukman Sardi, sampai Rio Dewanto. Tak ketinggalan Morgan Oey, Bront Palarae, Aming, dan Arswendy Bening Swara. Kolaborasi lintas generasi ini memberi kedalaman emosi yang luar biasa, sekaligus memperkuat realisme cerita yang diusung.
Dari sisi produksi, tim Joko Anwar benar-benar ambisius. Mereka membangun set penjara skala nyata berlantai dua. Proses pembangunannya makan waktu dua bulan, semua demi menciptakan nuansa yang autentik. Ratusan pemain dilibatkan untuk menghadirkan atmosfer yang hidup dan mencekam.
Dukungan teknologi seperti pencahayaan 360 derajat memungkinkan para aktor bergerak lebih leluasa. Hasilnya, akting yang tercipta terasa sangat natural. Proses syuting sendiri dilakukan dengan pendekatan yang lebih manusiawi: 22 hari kerja dengan durasi maksimal tujuh jam per hari. Cukup jarang untuk standar produksi film besar.
Yang menarik, Ghost in the Cell punya dua versi produksi. Selain versi utama yang dibintangi aktor profesional, ada versi “rahasia” yang diperankan oleh kru sebagai panduan visual. Inovasi semacam ini masih langka di tanah air.
Dengan durasi 106 menit dan respons awal yang cukup menggembirakan, film ini digadang-gadang akan menjadi salah satu karya horor Indonesia paling berpengaruh di tahun 2026. Bagi kamu yang bosan dengan horor klise dan mencari sentuhan psikologis plus kritik sosial yang tajam, Ghost in the Cell layak dicoba.
Sebagai catatan, ini bukan kali pertama Joko Anwar menghadirkan teror. Sebelumnya, deretan film horror karyanya sudah cukup membuat penonton bergidik. Beberapa yang paling terkenal antara lain: Dead Time: Kala (2007), Pintu Terlarang (2009), Pengabdi Setan (2017), Perempuan Tanah Jahanam (2019), hingga yang lebih baru seperti Siksa Kubur (2024) dan Pengepungan di Bukit Duri (2025).
Artikel Terkait
Situasi Yahukimo Kembali Tenang Pasca Kontak Tembak dengan KKB
Bupati Bantaeng Tegaskan Pemberhentian Permanen Direktur PDAM Tirta Eremerasa
Kisah di Balik Nama Unik Klinik Lacasino, Warisan dr. Farid Husain di Makassar
Dinas Peternakan Bone Perketat Pengawasan Hewan Kurban Jelang Idul Adha