MURIANETWORK.COM – Kritik keras dilayangkan pemerintah Tiongkok. Sasaran mereka? Kebijakan sepihak Amerika Serikat yang memblokade jalur pelayaran Iran di Selat Hormuz. Langkah Washington ini dinilai Beijing bukan cuma berbahaya, tapi juga tak bertanggung jawab.
Melalui Kementerian Luar Negeri, Tiongkok memperingatkan bahwa blokade itu berpotensi memicu ketegangan kawasan yang lebih parah. Menurut mereka, situasi yang sudah panas malah bisa makin runyam.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Guo Jiakun, tak ragu menyebut kebijakan AS itu kontraproduktif. Alih-alih membawa damai, justru sebaliknya.
"China percaya bahwa hanya dengan mencapai gencatan senjata yang komprehensif dan mengakhiri perang, kita dapat secara mendasar menciptakan kondisi untuk meredakan situasi di selat," tegas Guo.
Blokade yang mulai berlaku Senin lalu itu, di mata Beijing, mengancam situasi gencatan senjata yang memang sudah rapuh. Mereka mendesak semua pihak untuk kembali ke meja dialog. Stabilitas kawasan, kata mereka, harus dijaga.
"China mendesak semua pihak untuk mematuhi pengaturan gencatan senjata, fokus pada arah umum dialog dan pembicaraan damai, serta memulihkan lalu lintas normal di selat sesegera mungkin," lanjutnya.
AS Perketat Akses ke Pelabuhan Iran
Jadi, apa sebenarnya yang dilakukan AS? Kebijakan blokade dijalankan oleh US Central Command (Centcom). Intinya, mereka membatasi ketat kapal-kapal yang mau masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.
Langkah ini diambil setelah perundingan AS-Iran di Islamabad mentok. Gagal total. Pasca jeda konflik awal April, ini jelas sebuah eskalasi baru.
Iran sendiri langsung merespons. Pemerintah Teheran memperingatkan, blokade ini bakal berdampak global. Masyarakat dunia akan merasakannya, terutama lewat lonjakan harga energi. Mereka juga bersiap memberi respons jika eskalasi militer terjadi.
Sementara itu, ada isu lain yang ikut bermain. Tiongkok membantah keras tudingan bahwa mereka memasok senjata ke Iran. Semua laporan soal itu, kata Beijing, "sepenuhnya dibuat-buat".
Gejolak ini langsung terasa di pasar. Harga minyak sempat anjlok di bawah USD100 per barel, didorong harapan akan solusi diplomatik. Brent ada di kisaran USD98,44, sementara WTI sekitar USD96,48.
Tapi jangan terlalu cepat optimis. Ketidakpastian masih menggantung. Ingat, Selat Hormuz itu jalur nadi distribusi minyak dunia. Sedikit gangguan, dampaknya bisa besar.
Ketegangan Meluas ke Arena Global
Pada akhirnya, ini bukan cuma soal AS dan Iran. Tarik-menarik kekuatan global sedang terjadi. Di satu sisi, tekanan AS. Di sisi lain, seruan deeskalasi dari Tiongkok.
Dampaknya berpotensi meluas jauh. Stabilitas kawasan Timur Tengah tentu jadi taruhan utama. Tapi getarannya bisa merambat ke ekonomi global. Semua mata kini tertuju pada selat sempit itu, menunggu langkah berikutnya.
Artikel Terkait
Jerman Hancurkan Finlandia 4-0 dalam Uji Coba Menjelang Piala Dunia 2026
Uruguay Umumkan 26 Pemain Piala Dunia 2026, Luis Suáres Absen
Marco Bezzecchi Menangi MotoGP Italia di Mugello, Aprilia Kunci Posisi 1-2
Mantan Anggota Polri Divonis Seumur Hidup Ditemukan Tewas di Sel Isolasi Lapas Palangka Raya