Intinya, bagi delegasi AS, ruang negosiasi sudah mentok. Ada hal-hal yang bisa dibicarakan, tapi lebih banyak lagi yang mereka anggap non-negosiable.
Pakistan Tetap Dapat Pujian
Meski hasilnya nol besar, ada satu pihak yang justru dapat apresiasi: Pakistan. Vance secara khusus menyoroti peran Islamabad sebagai mediator.
Menurutnya, tuan rumah sudah berupaya maksimal menjembatani jurang perbedaan antara dua negara yang kerap berseteru itu. Upaya mereka dinilai luar biasa, meski pada akhirnya tidak cukup untuk menyatukan persepsi.
“Terlepas dari kekurangan negosiasi, itu bukan karena pihak Pakistan. Mereka melakukan pekerjaan luar biasa dan benar-benar mencoba membantu kami dan Iran menjembatani kesenjangan dan mencapai kesepakatan. Kami telah melakukannya selama 21 jam, dan kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan Iran. Itu kabar baiknya,” kata Vance.
Jadi, meski gagal, prosesnya sendiri dianggap punya nilai. Diskusi selama 21 jam itu disebutnya substantif. Hanya saja, substansi itu belum bisa dikristalkan menjadi sebuah kesepakatan yang bisa ditandatangani bersama.
Kini, situasi kembali ke titik awal. Dunia internasional menunggu langkah selanjutnya dari kedua negara, sementara ketegangan di kawasan masih menggantung tanpa kepastian.
Artikel Terkait
Ahli IPB: Limbah Cair Sawit Bisa Kurangi Ketergantungan Impor Pupuk
Prabowo Mundur dari Ketua Umum IPSI, Fokus pada Tugas Kebangsaan
Prabowo Dorong Pencak Silat Menuju Olimpiade, Tekankan Pentingnya Jaga Kemurnian
Bupati Tulungagung Ditahan KPK, Modus Pemerasan Kembali Mencuat