Namun begitu, pengamanan tak cuma soal jumlah personel. Sebelum ibadah dimulai, Tim Penjinak Bom (Jibom) dari Sat Brimob sudah lebih dulu melakukan sterilisasi menyeluruh di setiap gereja. Ini langkah pencegahan standar untuk memastikan tak ada benda mencurigakan atau berbahaya yang mengganggu.
Yang menarik, pendekatan yang dipilih aparat cenderung humanis dan persuasif. Mereka ingin jemaat merasa aman, tapi juga nyaman. Personel lapangan dikenakan rompi hijau agar mudah diidentifikasi siapa pun yang butuh bantuan. Aturan ketat juga diterapkan: petugas dilarang menggunakan senjata api tanpa perintah khusus. Semua demi menjaga kekhidmatan ibadah dan menghindari kesan yang menakutkan.
Di sisi lain, tugas polisi tak berhenti di pengawalan. Mereka juga turun tangan mengatur arus lalu lintas di sekitar gereja untuk antisipasi kemacetan. Tim medis dari Dokkes Polri pun disiagakan, siap memberi pertolongan pertama jika ada jemaat yang mengalami masalah kesehatan mendadak.
Melalui sinergi lintas sektoral dan pendekatan yang melayani ini, Polda Sumsel bertekad merawat toleransi dan menjaga predikat Sumsel sebagai wilayah zero conflict. Kehadiran Polri di setiap gerbang gereja menjadi bukti nyata bahwa negara senantiasa hadir untuk mendampingi masyarakat, memastikan kedamaian dan kerukunan umat beragama tetap terjaga di Bumi Sriwijaya.
Komitmen itu diucapkan langsung oleh Nandang. Intinya, semua upaya digelar demi satu hal: stabilitas keamanan dan kerukunan antarumat beragama benar-benar terjaga selama momen suci ini.
Artikel Terkait
Harga Emas Pegadaian Stabil pada Akhir Pekan, Antam Rp2,97 Juta per Gram
Barcelona Kalahkan Atletico Madrid 2-1 Berkat Gol Telat Lewandowski
PSM Makassar Gagal Maksimalkan Kandang, Ditahan Imbang Persis Solo
Drama Injury Time, Dortmund Hancurkan Stuttgart 0-2