Kebijakan WFH ASN Dinilai Minim Dampak Langsung pada Pasar Kantor Komersial

- Sabtu, 04 April 2026 | 06:35 WIB
Kebijakan WFH ASN Dinilai Minim Dampak Langsung pada Pasar Kantor Komersial

Kebijakan WFH satu hari dalam seminggu untuk ASN akhirnya resmi berjalan. Tapi, jangan buru-buru membayangkan gedung-gedung perkantoran komersial di Jakarta akan langsung sepi. Kenyataannya, dampaknya terhadap pasar sewa kantor komersial diprediksi bakal sangat minim, bahkan hampir tidak terasa.

Alasannya sederhana: Aparatur Sipil Negara umumnya nggak ngontrak di gedung-gedung komersial itu. Mereka menempati gedung milik pemerintah sendiri. Jadi, kebijakan ini sama sekali tidak mengubah jumlah penyewa atau "tenant" di pasar.

Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, menegaskan hal ini.

"Kebijakan WFH untuk ASN tidak akan memengaruhi okupansi gedung komersial secara langsung. Tidak ada perubahan pada jumlah tenant," ujarnya dalam riset terbaru.

Artinya, jangan harap ada goncangan permintaan yang tiba-tiba. Pasar sewa kantor untuk perusahaan swasta dan multinasional tetap akan berjalan seperti biasa. Lagipula, sebagian besar perusahaan swasta ini sudah lebih dulu menerapkan sistem kerja hybrid pasca-pandemi. Kebijakan pemerintah untuk ASN bukanlah hal baru bagi mereka.

Namun begitu, bukan berarti kebijakan ini sama sekali tidak punya efek. Ada dampak tidak langsung yang patut diamati. Ketika pemerintah sebagai institusi besar mulai menerapkan WFH secara formal, hal itu memberi sinyal kuat dan semacam legitimasi.

Ini bisa mendorong sektor lain, terutama perusahaan lokal atau BUMN tertentu, untuk ikut mengadopsi pola serupa. Mungkin tidak langsung drastis, tapi bisa bertahap.

"Dampaknya terhadap pasar perkantoran jadi lebih bersifat second-order effect, bukan dampak langsung," jelas Ferry.

Lalu, apa konsekuensi jangka panjangnya? Jika pola kerja hybrid makin normal dan meluas, yang akan terkena imbas sebenarnya adalah tingkat "penggunaan" ruang kantor, bukan tingkat "penyewaannya".

Bayangkan begini: sebuah perusahaan tetap menyewa satu lantai penuh, tapi pegawainya hanya datang ke kantor tiga atau empat hari seminggu. Ruang itu tetap disewa, tapi tidak lagi dipakai maksimal setiap hari. Inilah yang disebut penurunan utilisasi.

Ferry memaparkan potensi ke depannya.

"Dalam jangka panjang, penurunan utilisasi ini berpotensi mendorong efisiensi kebutuhan ruang. Pada akhirnya, hal itu bisa memengaruhi tingkat permintaan dan hunian," katanya.

Jadi, ceritanya bergeser. Saat ini, hunian gedung komersial masih aman. Tapi pola kerja kita yang berubah perlahan-lahan bisa mengubah cara perusahaan memandang kebutuhan ruang fisik mereka di masa datang. Itulah dampak riil yang perlu diwaspadai, meski datangnya belakangan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar