Pandangan serupa datang dari Aura, juga 16 tahun. Ia mendefinisikannya sebagai hubungan yang keliru, melibatkan anak dengan orang yang jauh lebih dewasa.
Baginya, hubungan semacam ini mustahil dianggap wajar. Ketimpangan usia, kedewasaan, dan cara berpikir menciptakan celah besar untuk manipulasi.
Aura menambahkan, dari berita yang ia baca, keluarga yang tidak harmonis sering jadi pintu masuk pelaku. Mereka menawarkan rasa nyaman palsu. "Korban sudah bergantung secara emosional. Ini menunjukkan child grooming bukan cuma soal tipu identitas, tapi juga eksploitasi keadaan. Makanya, komunikasi baik dalam keluarga itu penting," tuturnya.
Suara dari Siswa Laki-laki: Menolak Normalisasi
Dari sudut pandang berbeda, Abdul Muhayyamin (17) menyatakan penolakan kerasnya. Ia paham betul dan menentang jika praktik ini dinormalisasi.
Sementara itu, Ibrachim (17) mengaku belum sepenuhnya paham istilah teknisnya. Tapi sikapnya jelas: menolak.
Jelas, meski tingkat pemahamannya bervariasi, insting untuk menolak hubungan tak sehat itu sudah muncul. Itu mungkin titik awal yang baik. Tapi, apakah cukup? Di tengah maraknya interaksi daring dan godaan di dunia maya, kewaspadaan kolektif harus terus dibangun. Bukan hanya tugas sekolah, tapi juga keluarga dan lingkungan sekitar.
Artikel Terkait
Sirup Markisa Makassar: Ikon Kuliner yang Naik Kelas Jadi Komoditas Unggulan
Sulsel Waspada Hujan Sedang hingga Deras Siang hingga Dini Hari
SMAN 11 Makassar Sukses Terapkan Larangan Ponsel Lewat Sosialisasi Bertahap
Granat Aktif Ditemukan di Tong Sampah Kantor BPN Makassar