Potensinya besar. Bahkan produk samping industri gula, seperti molase atau tetes tebu yang selama ini diekspor, bisa diolah jadi etanol. “Bahan baku yang kita ekspor itu ada 1 juta ton. Ini bisa dijadikan etanol,” ujarnya.
Intinya, ke depan kerja sama semua pihak jadi kunci. “Artinya bagaimana kita mandiri energi, mandiri pangan. Ini kita lakukan bersama-sama,” tekan Mentan.
Di sisi lain, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono melihat peran sektor pertanian kini kian strategis. Tak cuma soal pangan, tapi juga energi.
“Swasembada pangan sudah kita raih. Insyaallah kita akan bergeser. Salah satunya adalah kemandirian energi, di mana pertanian menyumbang dari sisi bioenerginya,” kata Sudaryono.
Untuk mempercepat semua ini, kolaborasi dengan BUMN pangan diperkuat. Mereka akan jadi motor penggerak di lapangan.
Dukungan juga datang dari Wakil Ketua Badan Pengaturan BUMN, Tedi Bharata. “Kami sudah berkoordinasi dengan Mentan untuk tindak lanjut arahan Presiden. BUMN punya hubungan dekat dengan Kementan. Kita akan membuka potensi-potensi di beberapa BUMN agar kita jadi lebih mandiri dan independen,” terang Tedi.
Dengan akselerasi program biofuel dan bioetanol ini, targetnya ganda. Selain kemandirian energi berbasis pertanian, juga ada tujuan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dan tentu saja, kesejahteraan petani.
Sinergi antara Kementerian Pertanian, BUMN, dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan bisa membuat program ini berjalan lancar. Tepat sasaran. Jika semua bergerak, ketangguhan Indonesia menghadapi dinamika global bukan lagi sekadar impian.
Artikel Terkait
Polisi Pastikan Stok BBM di Bone Normal, Antrian Panjang Disebabkan Kecemasan Warga
Prajurit TNI Gugur dalam Serangan Artileri di Lebanon Selatan
Analis Prediksi Harga BBM Nonsubsidi Berpotensi Naik Rp2.000 per Liter Awal April
Timnas Indonesia Hadapi Ujian Berat Lawan Bulgaria di Final FIFA Series