Nah, yang menarik, ASDP juga memikirkan nasib ekonomi warga sekitar. Mereka berencana memanfaatkan area pelabuhan Bajoe yang tak terpakai untuk UMKM. Lahan itu nantinya bisa dipakai melayani pengunjung Pantai Bajoe, yang jumlahnya bisa mencapai 6 ribu orang per bulan.
Tak cuma itu, zona di luar konstruksi juga akan dioptimalkan. Masyarakat bisa memanfaatkannya untuk berbagai kegiatan, entah itu olahraga, car free day, atau sekadar acara sosial lainnya.
Soal tiket, nantinya layanan penyeberangan di lintasan Siwa–Kolaka akan dikelola online lewat Ferizy. Platform ini diharapkan bisa mempermudah calon penumpang. Sementara untuk urusan retribusi daerah dan pungutan lain, tetap jadi wewenang Pemda melalui Dinas Perhubungan setempat.
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menegaskan transformasi layanan ke arah digital ini penting.
Selain karena arus balik, penundaan ini ternyata juga dipengaruhi hal teknis. Fasilitas di Pelabuhan Siwa masih perlu disempurnakan. Ditambah lagi, ada keterlambatan pengiriman material untuk pembangunan movable bridge atau jembatan bergeraknya.
ASDP memastikan, selama masa penundaan, operasional di Bajoe–Kolaka akan tetap berjalan seperti biasa. Mereka juga mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan lebih awal dan memanfaatkan tiket online agar terhindar dari antrean panjang.
Ke depan, koordinasi dengan semua pemangku kepentingan akan terus diperkuat. Tujuannya satu: memastikan proses pengalihan berjalan mulus, efektif, dan akhirnya memberi manfaat optimal buat masyarakat dan konektivitas antarwilayah.
Artikel Terkait
Bazar Rakyat Instruksi Presiden Prabowo Serbu Monas, Dihadiri Ratusan Ribu Warga
AS Siap Gelar Pertemuan dengan Iran Pekan Ini, Sinyal Damai Muncul di Tengah Konflik
Bapanas Pantau Pasar Makassar, Harga Pangan Pokok Kembali Stabil
Jenazah Mantan Menhan Juwono Sudarsono Tiba di Rumah Duka di Pondok Pinang