Di tengah hiruk-pikuk forum investasi di Miami, Sabtu lalu, Steve Witkoff, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, memberikan sinyal diplomatik yang cukup mengejutkan. Washington, katanya, berencana menggelar pertemuan dengan Iran dalam waktu dekat. "Kami perkirakan pertemuan bisa terjadi pekan ini," ujarnya. Witkoff tampak optimis, meski tetap berhati-hati.
"Tentu kami berharap itu terwujud. Ada tanda-tanda positif, lihat saja kapal-kapal mulai melintas lagi. Saya rasa presiden punya keinginan kuat untuk mencapai kesepakatan damai," tambahnya.
Ia menegaskan, proses negosiasi akan terus digenjot. Tidak berhenti di sekadar pembicaraan, tapi harus sampai pada hasil yang konkret dan bisa dirasakan.
Pernyataan Witkoff seolah mendapat penguatan dari atas. Secara terpisah, Presiden Donald Trump menyoroti perubahan sikap Tehran.
"Mereka dihancurkan. Mereka ingin bicara, dan kami juga menginginkannya. Sekarang mereka mau berunding, mau buat kesepakatan," kata Trump dengan gaya khasnya.
Jadi, apakah jalan damai benar-benar terbuka? Sinyal-sinyal dari kedua pihak memang mulai terdengar, meski di lapangan situasinya masih panas. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, bahkan memberi timeline. Kampanye militer terhadap Iran, menurutnya, bisa berakhir dalam hitungan pekan saja. Target operasi, klaim Rubio, bisa tercapai tanpa perlu mengerahkan pasukan darat. Cukup dari udara.
Artikel Terkait
Timnas Iran Gelar Aksi Diam Bawa Tas Sekolah, Berduka untuk 165 Korban Anak di Minab
Antonelli Rebut Pole Position, Grid Suzuka 2026 Diwarnai Kejutan
Justin Hubner: Indonesia Terasa Seperti Rumah Setiap Kali Dipanggil Timnas
Hendropriyono Kenang Juwono Sudarsono, Menteri Pertahanan Sipil dengan Jiwa Militan