Suasana Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel di Tamalanrea, Makassar, Sabtu lalu, terasa hangat dan khidmat. Itulah momen Syawalan 1447 Hijriah digelar. Yang menarik, acara ini kedatangan tamu istimewa: Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah yang juga menjabat sebagai Menteri Pendidikan.
Kehadirannya jelas bukan sekadar seremonial. Dalam tausiyahnya, Mu’ti langsung menyentuh persoalan yang sering jadi sumber gesekan: perbedaan.
Menurutnya, perbedaan mazhab dan pandangan itu sudah jadi ketetapan. Tak bisa dihindari. Ia lantas memetakannya dalam tiga kategori. Ada yang alamiah, semacam bawaan. Lalu yang ilmiah, hasil dari pemikiran mendalam. Dan yang terakhir, amaliah, terkait praktik ibadah sehari-hari.
Nah, di titik inilah pesan utamanya. Umat, kata dia, jangan sampai terjebak debat kusir soal siapa paling benar. Yang penting justru semangat fastabiqul khairat. Berlomba-lomba dalam kebaikan, itu kuncinya.
Jangan Sok Benar, Jaga Silaturahmi
Lalu, bagaimana caranya menjaga kedamaian? Mu’ti menyodorkan tiga prinsip utama. Pertama, hilangkan sikap merasa paling benar. Nabi Muhammad SAW saja rendah hati, masa kita mau merasa superior?
Kedua, stop prasangka buruk. Jangan juga sibuk mengorek-orek kesalahan orang lain. Yang ketiga, ini yang sering dilupakan: perkuat silaturahmi. Bukan sekadar sapa-sapa formal, tapi yang betul-betul bisa menyelesaikan konflik dan eratkan hubungan.
Artikel Terkait
Bapanas Pantau Pasar Makassar, Harga Pangan Pokok Kembali Stabil
ASDP Tunda Pengalihan Lintasan Penyeberangan ke Siwa-Kolaka Sampai 10 April 2026
Jenazah Mantan Menhan Juwono Sudarsono Tiba di Rumah Duka di Pondok Pinang
Iran Beri Sinyal Positif, Kapal Pertamina Dipertimbangkan Lintasi Selat Hormuz