Suasana di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, akhirnya mereda. Polemik yang sempat memanas di media sosial terkait penggunaan Masjid Nurut Tajdid di Kompleks BTN Pepabri, berhasil diatasi lewat meja mediasi yang difasilitasi pemerintah daerah.
Rabu lalu, pertemuan digelar di Ruang Pola Kantor Bupati. Di sana, duduk berdampingan, perwakilan pengurus masjid dan organisasi Muhammadiyah. Tujuannya jelas: meredakan ketegangan yang muncul jelang Salat Idulfitri beberapa hari sebelumnya.
Sekretaris Daerah Barru, Abubakar, yang memimpin forum, langsung menekankan pentingnya menjaga kedamaian.
“Semua pihak diimbau untuk menahan diri serta mengedepankan persatuan, kebersamaan, dan ukhuwah Islamiyah, khususnya dalam momentum pasca Ramadan dan Idul Fitri,” ujarnya, seperti dikutip dari Antara.
Dari pertemuan itu, muncul titik terang. Soal sengketa kepemilikan lahan dan bangunan masjid, misalnya, akan diserahkan sepenuhnya ke ranah hukum. “Silakan masing-masing ajukan bukti di pengadilan,” begitu kira-kira kesepakatannya. Dengan begitu, status hukumnya nanti bisa jelas dan mengikat.
Yang penting, aktivitas ibadah di masjid itu tak boleh terganggu. Tidak ada pembatasan bagi jamaah dari kelompok mana pun untuk salat di sana. Poin ini ditegaskan untuk mencegah kesalahpahaman baru.
Di sisi lain, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Barru, Ahmad Jamaluddin, merasa perlu meluruskan narasi yang beredar. Ia membantah keras isu bahwa Barru adalah daerah intoleran.
“Barru itu daerah yang sangat toleran. Kejadian beberapa hari lalu ini lebih karena miskomunikasi dan kurang koordinasi saja,” jelas Jamaluddin.
Pernyataan senada datang dari seberang meja. Ketua Pengurus Masjid Nurut Tajdid, Suaib Arifin, juga mengajak semua pihak untuk tidak memperbesar masalah. “Mari kita jaga keharmonisan,” ajaknya singkat.
Mediasi ini dihadiri banyak pihak penting. Mulai dari jajaran Pemkab, Kemenag, hingga perwakilan TNI-Polri dan FKUB. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, tapi untuk memastikan situasi tetap kondusif dan proses hukum berjalan lancar.
Konflik ini sendiri berawal dari sebuah video viral. Dalam rekaman itu, terlihat penolakan terhadap jamaah Muhammadiyah yang hendak Salat Id di masjid tersebut pada Jumat, 20 Maret. Kabarnya, ada perbedaan waktu pelaksanaan Idulfitri dan klaim kepemilikan masjid yang saling silang. Dua hal itulah yang memicu gesekan, yang kemudian dengan cepat digiring menjadi isu intoleransi.
Menyikapi hal itu, aparat keamanan pun tak tinggal diam. Sebelum mediasi digelar, polisi bersama TNI dan pemerintah setempat sudah turun ke lokasi. Mereka berjaga, memastikan situasi tidak meluas dan tetap bisa dikendalikan.
Artikel Terkait
Polrestabes Makassar Bekuk Tiga Pembobol Rumah di Perumahan Sudiang, Kerugian Capai Rp12,5 Juta
Cavaliers Perkecil Ketertinggalan dari Pistons Usai Menangi Game 3 Semifinal Wilayah Timur
Harga Emas Antam Stabil di Rp2,839 Juta per Gram pada Akhir Pekan
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Disertai Petir di Makassar Siang hingga Sore Ini