Pagi buta di Hari Raya Idul Fitri, 3 Februari 1965. Suasana sunyi di tepi Sungai Lasolo yang sedang banjir tiba-tiba pecah oleh rentetan tembakan. Dalam pertempuran singkat dan sengit itu, berakhir sudah riwayat Abdul Kahar Muzakkar. Mantan pengawal Bung Karno yang jadi otak pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan itu tumbang ditembak pasukan elite TNI.
Perburuan panjang terhadap pentolan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) ini akhirnya menemui titik akhir. TNI memang sudah lama mengincarnya, sejak Kahar yang nama lahirnya Ladomeng terang-terangan melawan pemerintah. Selama bertahun-tahun, dia seperti hantu, hilang dan muncul di balik lebatnya hutan Sulawesi.
Jejaknya mulai tercium awal 1965. Saat itu, perwira kepercayaannya, Letkol Kadir Junus, memilih menyerah kepada Tim Operasi Kilat TNI.
“Ia membuka rahasia dengan menunjukkan perkiraan daerah persembunyian Kahar Muzakkar di suatu tempat di Sungai Lasolo, Kabupaten Kendari, Sulawesi Tenggara,” kenang Sintong Panjaitan dalam bukunya yang ditulis Hendro Subroto.
Sebenarnya, jejak perlawanan Kahar sudah dimulai jauh sebelumnya. Pada 7 Agustus 1953, dia memproklamirkan Sulawesi Selatan sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia (NII). Langkah inilah yang memicu penumpasan tanpa henti, lewat jalan perundingan maupun operasi militer. Perlawanannya bertahan cukup lama, nyaris 12 tahun.
“Pemberontakan itu berlangsung dari tahun 1953 hingga 1965, menciptakan ketidakstabilan politik signifikan di Indonesia dan menunjukkan kompleksitas hubungan antara gerakan separatis dan negara,” tulis Harianto dalam sebuah penelitian.
Ironisnya, Kahar bukanlah orang baru dalam perjuangan. Dia adalah seorang nasionalis sejati. Lahir di Luwu, Sulsel, pada 1921, pria ini adalah pejuang kemerdekaan yang bergerilya melawan Belanda. Bahkan, dia pernah dikirim ke Jawa untuk bertempur. Karir militernya pun cemerlang, mencapai pangkat letnan kolonel dalam Angkatan Perang Republik Indonesia.
Yang menarik, Panglima ABRI kelak, Jenderal M. Jusuf, ternyata pernah menjadi ajudannya. Dan sejarah berputar, Jusuf-lah yang kemudian memimpin operasi penumpasan terhadap mantan komandannya itu.
Kepastian lokasi persembunyian Kahar didapat pada 22 Januari 1965. Saat itu, tim RPKAD cikal bakal Kopassus menyergap sebuah kelompok di sekitar Lawate.
“Di antara dokumen-dokumen yang disita terdapat surat-surat yang masih baru, yang ditulis oleh Kahar Muzakkar ditujukan kepada Mansjur,” tutur Atmaji Sumarkidjo.
Berdasarkan petunjuk itu, disusunlah operasi penyergapan. Pasukan yang ditugaskan adalah batalyon elite Yonif 330/Para Kujang I pimpinan Yogie S Memet.
Hari penentuan itu adalah 2 Februari. Dari posisi pengamatan, pasukan melihat seseorang naik rakit menyusuri sungai yang banjir. Peltu Umar Sumarsana, yang memimpin peleton, memberi isyarat agar anak buahnya diam. Mereka mengamati. Rakit itu menuju sebuah perkemahan dengan beberapa bivak di tepian.
Suasana di perkemahan tampak lengang. Beberapa orang terlihat mandi. Lalu, dari sebuah bivak, sayup-sayup terdengar alunan musik. Sebuah lagu berjudul "Terkenang Masa Lalu" yang diputar oleh stasiun radio Malaysia.
Menurut penunjuk jalan, itu lagu favorit Kahar. Petunjuk lainnya: hanya dialah yang punya radio transistor di kelompok itu. Anggota lain dilarang keras memilikinya.
Semua indikasi mengarah ke sana. Maka, pada dini hari tanggal 3 Februari, pasukan mulai bergerak mengepung. Empat prajurit dititipkan di seberang sungai untuk memotong jalan kabur. Mereka menunggu dengan sabar, menanti cahaya pertama menyingsing.
“Tepat pukul 04.00 subuh, satu peleton pasukan Kujang I mulai bergerak melakukan penyusupan senyap hingga jarak sangat dekat tanpa diketahui lawan,” catat Iwan Santosa dan EA Negara.
Pertempuran pun tak terhindarkan. Dalam keremangan subuh, terdengar letusan senjata. Atmaji Sumarkidjo menggambarkan, tiba-tiba seorang pria keluar dari bivak dan berlari membawa sesuatu.
Prajurit di posisi depan mengira benda di tangan pria itu adalah granat. Tanpa pikir panjang, Kopral III Ili Sadeli melepas tembakan. Tiga peluru dari senapan Thompson-nya menghunjam tubuh pria tersebut. Dia roboh seketika.
Sosok yang tewas itu tak lain adalah Abdul Kahar Muzakkar. Pemimpin pemberontakan yang telah sekian lama dicari-cari itu akhirnya menemui ajalnya di tepi sungai, di pagi hari yang seharusnya penuh sukacita. Jenazahnya kemudian dievakuasi menggunakan helikopter Mil Mi 4, mengakhiri satu babak kelam dalam sejarah republik.
Artikel Terkait
Polemik Ikan Sapu-Sapu di Sungai Sa’dan: Pemda Toraja Utara Belum Temukan Bukti, Ahli Dorong Pendekatan Lingkungan
Anggota DPR: Nasib 1,6 Juta Guru Honorer Masih Jauh dari Layak, Negara Dinilai Abaikan Hak Konstitusional
Polisi Tangkap Empat Pemuda Dalang Aksi Brutal Geng Motor di Makassar
PGR Sulsel Resmi Kantongi SKT dari Kemenkum, Targetkan Ikut Pemilu 2029