Nah, dari sinilah lahir konsep yang ia sebut smart journalism. Sebuah pendekatan yang menyatukan riset, data, dan kecerdasan buatan. Politisi Golkar ini berharap, dengan pendekatan ini, jurnalis bisa naik kelas. Tidak cuma melaporkan peristiwa, tapi juga menjabarkan hal-hal kompleks jadi lebih mudah dicerna publik.
Tapi tunggu dulu. Di balik segala kemudahan dan efisiensi itu, ada bayangan gelap yang mengintai.
Hetifah mengingatkan ancaman serius seperti disinformasi dan manipulasi konten. Teknologi Deepfake, misalnya. Konten audio-visual yang dibuatnya nyaris sempurna, realistis banget. Potensi penyalahgunaannya besar, untuk menipu atau mengarahkan opini publik.
“AI dapat membantu mempercepat proses kerja, namun integritas nurani dan tanggung jawab moral tetap tidak bisa didelegasikan kepada algoritma,” tegasnya.
Pesan akhirnya jelas. Di era serba otomatis ini, justru hal-hal yang paling manusiawi nurani, pertimbangan moral, tanggung jawab tak boleh tergantikan. Itulah intinya.
Artikel Terkait
Keluarga Pemudik Terdampar di Bahu Tol Semarang-Solo Usai Salah Naik Bus
Pemerintah Gelar Sidang Isbat Awal Syawal 1447 H pada 19 Maret 2026
Dua Perempuan Tewas Tertindas Truk Tronton di Jalan Nasional Mojoagung
IHSG Terkikis 1,61%, Analis Proyeksikan Koreksi Bisa Lanjut ke Level 6.745