Dia sepakat untuk menerima tamu itu sekitar pukul sepuluh pagi. Tapi begitu mereka datang, Mahfud justru kaget. Yang datang bukan sekadar bersilaturahmi. Mereka membawa kamera dan langsung berniat mewawancarainya tentang Gus Yaqut.
"Ternyata yang datang bukan orang Ansor. Dia sudah membawa kamera, lalu katanya mau wawancara tentang Gus Yaqut. Nah, saya bilang, saya tidak mau, lho, bicara soal Gus Yaqut karena keterangan saya sudah jelas. Tapi, kalau Anda mau diskusi, ayo lah," kenangnya.
Diskusi pun berjalan, meski Mahfud merasa ada yang janggal. Pembicaraannya terkesan memihak. Karena mereka sudah datang jauh-jauh, Mahfud akhirnya menawarkan wawancara dengan topik lain yang lebih proporsional. Misalnya, soal wewenang pimpinan KPK dalam menetapkan status tersangka.
Rupanya, rekaman obrolan itulah yang kemudian dipetik-petik dan disusun menjadi rilis yang menyesatkan.
"Iya, saya tidak bersedia diwawancara, tapi saya ngobrol saja sebagai tamu. Tapi, ketika akan pulang, kalau Anda sudah terlanjur datang, mari saya wawancara yang lain. Tampaknya yang wawancara itu hampir semuanya tidak ada yang dimuat. Ini mengambil dari... yang sudah saya katakan dulu, tapi dipetik-petik sesuatu yang memang seakan-akan ingin menyalahkan KPK dan seterusnya," pungkas Mahfud.
Artikel Terkait
22 WNI Dievakuasi dari Iran, Tiba dengan Selamat di Soekarno-Hatta
OJK Cabut Izin BPR Koperindo Jaya, Lima Bank Gulung Tikar dalam Tiga Bulan
Rebung, Superfood Lokal Kaya Serat dan Antioksidan untuk Kesehatan Jantung
Media Iran Sebut Netanyahu Tewas atau Luka, Israel Bungkam