"Meredanya tekanan harga berlangsung dalam konteks pasokan global yang relatif memadai," jelas Afaqa.
Lalu Bagaimana dengan Energi?
Selain pangan, Afaqa turut menyoroti pasar energi global. Situasinya sedikit berbeda, masih dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
"Konflik berpotensi memicu volatilitas harga minyak," ujarnya.
"Tapi kondisi ini justru mengingatkan kita akan pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional. Caranya ya melalui diversifikasi sumber energi."
Faktanya, neraca perdagangan migas Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir masih defisit. Data akhir 2025 mencatat defisit migas mencapai 2,09 miliar dolar AS. Angka itu menunjukkan konsumsi energi dalam negeri masih jauh lebih tinggi ketimbang kemampuan produksi kita sendiri.
Namun begitu, situasi ini bukannya tanpa hikmah. Justru mendorong urgensi untuk serius mengembangkan energi alternatif dan meningkatkan efisiensi di tingkat nasional.
"Program bauran energi seperti biodiesel yang sudah berjalan itu langkah penting," papar Afaqa.
"Ini bisa mengurangi ketergantungan kita pada impor bahan bakar."
Artikel Terkait
Lima Tersangka Korupsi Bibit Nanas Rp60 Miliar Ditahan Kejati Sulsel
Gempa Magnitudo 2,8 Guncang Perairan Barat Daya Lumajang
KPK Tangkap Bupati Rejang Lebong dalam OTT di Bengkulu, 12 Orang Diamankan
Marušić Cetak Gol Telat, Lazio Kalahkan Sassuolo 2-1