“Saya sangat… saya kenal dari dekat hubungan-hubungan emosional dari pemimpin-pemimpin negara ini dengan Bapak Presiden Prabowo,” jelas Bahlil. Kemampuan menjalin komunikasi secara emosional itulah yang ia anggap sebagai modal kuat untuk menjadi mediator.
Namun begitu, di luar sana suara keraguan memang ada. Sejumlah tokoh, misalnya, mempertanyakan realistis tidaknya peran Indonesia dalam konflik yang pelik ini.
Dino Patti Djalal, mantan diplomat senior, termasuk yang vokal. Ia meminta Prabowo mempertimbangkan kembali niatnya untuk terbang ke Teheran sebagai mediator. Argumennya sederhana: menurut dia, kecil kemungkinan Presiden AS Donald Trump yang dianggap sebagai pihak penyerang akan mau datang ke Iran untuk berunding.
“Ini tidak realistis dan tidak akan mungkin terjadi,” kata Dino dengan tegas.
Jadi, di satu sisi ada keyakinan penuh dari internal partai pendukung. Di sisi lain, kritik dan keraguan dari para pengamat tetap bergulir. Perdebatan soal diplomasi tingkat tinggi ini tampaknya masih akan terus berlanjut.
Artikel Terkait
Analisis CSIS: Operasi Militer AS di Iran Habiskan Rp62,6 Triliun dalam 100 Jam Pertama
Valverde Cetak Gol Telat, Real Madrid Taklukkan Celta Vigo 2-1
Valverde Selamatkan Real Madrid dengan Gol Dramatis di Menit Akhir
Valverde Cetak Gol Telat, Real Madrid Curi Kemenangan Dramatis di Markas Celta Vigo