Tapi Tiyo bersikukuh, itu bukan penghinaan. “Sapi kan simbol pemberi nutrisi, lewat susu dan daging. Hewan tidak lebih rendah dari manusia. Kami cuma mengingatkan,” jelasnya. Menurutnya, Presiden punya misi serupa: memberi nutrisi. Namun, peran presiden tak boleh berhenti di situ.
Setelah ramai dibahas Agustus tahun lalu, tuntutan mereka seolah menguap. Ada 17 8 poin yang konon diterima pimpinan DPR, tapi hingga kini tak ada kejelasan. Tiyo menilai ada kemacetan serius dalam struktur kelembagaan.
Eksekutif, legislatif, yudikatif mereka tidak bekerja saling melengkapi. Malah terkesan hanya mendukung kepentingan sendiri. Kebuntuan inilah yang mendorong BEM UGM membawa isu MBG ke tingkat dunia, sebagai isu pelanggaran konstitusi.
Baginya, ini sudah darurat. Pemerintah dinilainya bisu, buta, dan tuli.
Artikel Terkait
Es Cincau Gula Merah, Takjil Segar Kaya Vitamin untuk Buka Puasa
Wapres Keenam RI Try Sutrisno Wafat, Pramono Anung Kenang Sosok Teguh Penjaga Pancasila
Minibus Tercebur ke Irigasi di Lampung Timur, 4 Korban Dilarikan ke RS
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Makassar 2-3 Maret 2026