Geliat industri perhiasan dalam negeri ternyata tak surut oleh tingginya harga logam mulia global. Malah, sebaliknya. Data terkini dari Kementerian Perindustrian menunjukkan nilai ekspor barang perhiasan dan berharga tembus angka fantastis: USD 7,8 miliar atau setara Rp 130,1 triliun sepanjang 2025. Angka ini melesat jauh, naik 41,81% dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Reni Yanita, Dirjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin, melihat fenomena ini punya kaitan erat dengan tren global. Menurutnya, harga bahan baku emas dan perak yang melambung justru ikut mendongkrak nilai jual produk ekspor. Tapi itu bukan satu-satunya faktor.
"Kenaikan harga emas (perhiasan) ini memang terjadi. Tapi karena bahan bakunya lokal, kemudian kita juga sudah punya bullion bank, sehingga ini meningkatkan ekspor kita,"
ujar Reni dalam paparan capaian industri manufaktur akhir tahun lalu.
Swiss, Hong Kong, India, Uni Emirat Arab, dan Yordania jadi pasar utama yang menyerap produk-produk kilauan dari Indonesia ini. Di tengah kondisi itu, industri perhiasan masih tumbuh 9,55% pada kuartal III 2025, menyumbang sekitar 0,12% terhadap PDB nasional. Yang menarik, meski ekspor membesar, tingkat utilisasi pabrik-pabrik perhiasan baru sekitar 60%. Artinya, masih banyak ruang untuk berproduksi lebih giat lagi.
Artikel Terkait
Analis Prediksi Harga Minyak Bisa Tembus US$116 per Barel Pekan Depan
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan