Ramadan, Tradisi Ziarah ke Makam Ulama dan Tokoh Sejarah di Sulawesi Selatan

- Rabu, 25 Februari 2026 | 20:00 WIB
Ramadan, Tradisi Ziarah ke Makam Ulama dan Tokoh Sejarah di Sulawesi Selatan

Makam Datuk ri Bandang

Nama aslinya Abdul Makmur, tapi lebih dikenal sebagai Datuk ri Bandang atau Khatib Tunggal. Ulama asal Minangkabau ini punya peran sentral. Dialah salah satu tokoh kunci yang mengislamkan raja-raja Gowa-Tallo di akhir abad ke-16. Dakwahnya kemudian merambah ke Luwu dan wilayah Indonesia Timur.

Mengingat jasanya yang besar, tak heran makamnya di Jalan Tarakan, Kelurahan Malimongan Baru, Makassar, selalu ramai diziarahi. Sama seperti situs lainnya, tempat ini telah resmi menjadi cagar budaya.

Makam Pangeran Diponegoro

Lokasinya agak tersembunyi di Kompleks Kampung Jawa, Kelurahan Melayu, Kota Makassar. Di sini, Pangeran Diponegoro menghabiskan sisa hidupnya dalam pengasingan. Ia ditangkap Belanda usai Perang Jawa dan dibawa ke Makassar pada 1834.

Meski dalam pengasingan, semangatnya tak padam. Ia aktif menyalin Al-Qur’an, menulis catatan spiritual, dan menyebarkan nilai-nilai Islam serta tasawuf. Di kompleks ini, terdapat 66 makam lain, yaitu keluarga dan pengikut setianya yang ikut diasingkan.

Pangeran Diponegoro wafat pada 8 Januari 1855. Kini, ia dimakamkan berdampingan dengan sang istri, RA Ratu Ratnaningsih. Bagi banyak peziarah, makam ini adalah pengingat akan keteguhan hati dan perlawanan seorang pangeran yang tak pernah benar-benar menyerah.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar