Washington DC disambut kabut tipis khas musim dingin ketika pesawat Presiden Prabowo Subianto mendarat di Joint Base Andrews, Maryland. Jam menunjukkan pukul 11.55 waktu setempat, Selasa lalu. Dari pangkalan militer itu, rombongan langsung menuju hotel untuk beristirahat setelah penerbangan panjang.
Agendanya di ibu kota Amerika Serikat ini cukup padat. Tapi, salah satu yang paling ditunggu adalah kehadirannya di Konferensi Tingkat Tinggi Perdamaian Gaza, atau yang dikenal sebagai Board of Peace (BoP). KTT perdana ini rencananya baru digelar Kamis besok.
Menariknya, pertemuan puncak itu akan dipimpin langsung oleh Presiden AS Donald Trump Jr. Dialah yang menggagas pembentukan dewan tersebut. Indonesia sendiri resmi menjadi anggota setelah Presiden Prabowo menandatangani piagamnya di Davos, Swiss, bulan Januari lalu.
Tak hanya Indonesia, tentu saja. Sejumlah negara lain juga ikut menandatangani. Amerika Serikat selaku penggagas, lalu ada Hungaria, Bahrain, sampai Maroko. Beberapa nama besar seperti Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Qatar juga tercatat dalam daftar. Bahkan negara seperti Azerbaijan, Armenia, dan Kosovo turut serta.
Dalam kunjungan ini, Prabowo tidak sendirian. Ia didampingi oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Saat tiba, mereka disambut oleh Dubes RI untuk AS, Dwisuryo Indroyono Soesilo, beserta Atase Pertahanan Marsma TNI E. Wisoko Aribowo. Perwakilan militer setempat, Colonel Gary Charland, juga hadir dalam penyambutan singkat itu.
Selain soal perdamaian Gaza, ada agenda lain yang tak kalah penting. Rabu ini, Presiden dijadwalkan bertemu dengan sekelompok pebisnis Amerika. Pertemuan ini dinilai krusial untuk menjalin kemitraan ekonomi.
Namun begitu, puncak dari rangkaian kunjungan kerja ini mungkin adalah pertemuan bilateral dengan Presiden Trump Jr. sendiri. Dugaan kuat, mereka akan membahas rencana penandatanganan perjanjian dagang timbal balik, atau Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Perundingan ART ini sebenarnya sudah berjalan sejak tahun lalu. Jadi, pertemuan di Washington bisa menjadi momentum penyelesaian akhir. Jika terealisasi, kerja sama ekonomi antara kedua negara dipastikan akan memasuki babak baru.
Artikel Terkait
Polres Lamandau Gagalkan Penyelundupan 35 Kg Sabu dan 15 Ribu Pil Ekstasi di Perbatasan Kalimantan
Nasib Mikel Arteta di Arsenal Bergantung pada Trofi Musim Ini
Sengketa Lahan 400 Hektare di Luwu Timur: Warga Penggarap Berhadapan dengan Sertifikat HPL Pemda
Harga Emas Antam Turun Rp40.000 per Gram, Buyback Anjloh Rp51.000