"Status siaga sendiri ditetapkan di level 102,60 mdpl, status awas berada pada elevasi 103,30 mdpl, sedangkan puncak bendungan berada di ketinggian 106,00 mdpl," jelas Basolle.
Dengan data elevasi yang masih di angka 95,43 mdpl, posisi bendungan saat ini dinilai sangat aman. Sebagai langkah antisipasi dan pengaturan debit air yang rutin, pengelola telah membuka pintu pelimpah bendungan setinggi satu meter. Pembukaan ini mengalirkan air sekitar 60 meter kubik per detik ke aliran hilir Sungai Jeneberang, sebuah prosedur operasi standar untuk menjaga kestabilan.
Imbauan Kewaspadaan untuk Masyarakat
Meski kondisi bendungan stabil, pihak berwenang mengingatkan bahwa kewaspadaan tetap harus dijaga. Hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi panjang berpotensi menimbulkan genangan lokal dan limpasan air permukaan, terlepas dari status sebuah bendungan besar.
Masyarakat, khususnya yang bermukim di kawasan rawan banjir dan daerah sepanjang hilir Sungai Jeneberang, diimbau untuk terus memantau perkembangan cuaca dan lingkungan sekitar. Tim pengelola bendungan juga memastikan bahwa pemantauan kondisi dilakukan secara rutin dan real-time untuk mengantisipasi setiap perubahan yang mungkin terjadi jika hujan lebat berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Artikel Terkait
Harga Emas Pegadaian Naik Signifikan per 31 Maret 2026
Disdik Sulsel Wajibkan SMA/SMK Susun SOP Pembatasan Gawai di Sekolah
Ketua BPD-KKSS Soroti Pengangguran Sulsel, Desak Investasi dan Hilirisasi untuk Buka Lapangan Kerja
BNN Sulsel Bongkar Jaringan Narkoba yang Diduga Dikendalikan dari Dalam Lapas