“Futsal itu tidak mesti habis pertandingan baru ganti pemain. Tiga menit, capek, keluar, baru masuk. Tujuannya kan goal-nya,” paparnya.
Penekanannya jelas: keberadaan di posisi strategis adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dengan kinerja nyata. Prinsip ini, menurutnya, berlaku secara universal di semua lini.
Evaluasi Berlaku untuk Semua, Termasuk Dirinya
Yang menarik, Bahlil tidak hanya menyasar kader. Ia dengan lugas menyatakan bahwa prinsip evaluasi yang sama juga berlaku untuk dirinya sendiri selaku bagian dari pemerintahan. Pernyataan ini menunjukkan konsistensi sekaligus menegaskan bahwa tidak ada posisi yang kebal dari penilaian.
“Saya pun kalau tidak perform, bisa dievaluasi oleh Presiden. Tapi selama perform, sorry ye,” tandasnya.
Pernyataan terakhir itu sekaligus menutup pesannya dengan nada tegas namun percaya diri, menggarisbawahi budaya meritokrasi dan tanggung jawab kolektif yang ingin ditegakkannya dalam kepemimpinan partai.
Artikel Terkait
Pantai Mandala Ria Bulukumba: Pesona Alam dan Jejak Sejarah Operasi Mandala
Pemerintah Perpanjang Batas Lapor SPT Tahunan hingga 30 April 2026
Amran Serukan Kolaborasi Saudagar Hadapi Ancaman Krisis Pangan Global
Puncak Arus Balik Lebaran, Penumpang Bandara Tembus 583 Ribu Orang