Bintang berharap, melalui trofi ini, api keteladanan Fatmawati tetap menyala di internal partai dan sekaligus bisa menginspirasi masyarakat luas.
Mengenang Sang Ibu Bangsa
Untuk memahami pentingnya trofi ini, kita perlu mundur sejenak melihat jejak hidup Fatmawati. Dia lahir di Bengkulu, 5 Februari 1923, dari keluarga yang sudah akrab dengan pergerakan. Ayahnya, Hassan Din, adalah tokoh Muhammadiyah yang tak lepas dari tekanan kolonial Belanda. Lingkungan seperti inilah yang membentuk karakternya.
Dari pernikahannya dengan Soekarno, lahir lima tokoh bangsa: Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh Soekarnoputra. Sejarah kemudian mencatat, salah satu putrinya, Megawati, menjadi perempuan pertama yang memimpin Indonesia.
Di museum itu juga, Hasto menyoroti sebuah benda bersejarah: mesin jahit yang digunakan Fatmawati untuk membuat bendera pusaka. Bagi Hasto, benda itu bukan cuma alat jahit biasa.
Pada intinya, Fatmawati Trophy 2026 ingin menjadi lebih dari sekadar lomba. Ia ingin menjadi simbol penguatan memori kolektif bangsa tentang keteladanan. Apakah akan berhasil? Waktu yang akan menjawab. Tapi yang jelas, PDIP sedang berusaha menghidupkan kembali narasi sejarah itu dengan cara mereka sendiri.
Artikel Terkait
TNI Mutasi 35 Perwira, Mayjen Lucky Avianto Pimpin Kogabwilhan III
Raphinha dan Vinicius Jr Kompak di Pemusatan Latihan Timnas Brasil
Komposer Legendaris Lebo M Gugat Komedian Zimbabwe Rp 400 Miliar Atas Parodi The Lion King
Mohamed Sahah Resmi Tinggalkan Liverpool Lewat Surat Terbuka yang Haru