Kekuatan Ilusi dan Data yang Belum Terungkap
Konsistensi dalam berkomunikasi dan mengirimkan foto meski kerap hasil rekayasa menjadi senjata ampuh pelaku untuk mengukuhkan kepercayaan korban. Ilusi kedekatan inilah yang kemudian membutakan kewaspadaan.
“Jadi, di titik tertentu itu sangat meyakinkan untuk korban karena dia akan kirim foto setiap saat, memberikan kabar setiap saat. Nah, foto-foto itu kadang-kadang meyakinkan korbannya karena intens, merasa ini kayaknya benar, tidak mungkin fake,” ungkap Indri.
Dari catatannya, hanya pada tahun 2024 saja sudah lebih dari 100 laporan kasus yang tercatat dengan data lengkap. Angka ini, menurutnya, hanyalah puncak gunung es. Masih banyak korban yang tidak melapor atau melaporkan kasusnya tanpa melengkapi data, sehingga jumlah sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar.
Modus Kontemporer dan Latar Belakang Pelaku
Perkembangan terbaru menunjukkan pergeseran modus ke ranah investasi. Pelaku mulai mengajak korbannya untuk menanamkan uang dalam sebuah skema investasi, tak jarang dengan dalih mengumpulkan modal untuk pernikahan mereka di kemudian hari.
Dari sisi pelaku, jaringan love scam bersifat global dan terorganisir. Indri menyebutkan, “Sebetulnya kalau untuk pelaku itu kan macam-macam ya. Jadi, ada kalau waktu itu ada yang Nigerian Scammer, lalu ada yang memang pelakunya itu orang China, lalu yang terakhir ini dikendalikan atau akhirnya transfer ke Kamboja.”
Fakta ini menggarisbawahi kompleksitas dan tantangan dalam penanganan love scam, yang membutuhkan kewaspadaan tinggi dari masyarakat dan sinergi antarlembaga untuk penindakannya.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Raih Podium Moto3 Brazil Usai Strategi Cerdas di Balik Bendera Merah
Prabowo Unggah Foto Lawas Bersama Soeharto di Momen Ulang Tahun Putra
Antrean Kendaraan Mulai Mengular di Bakauheni Jelang Puncak Arus Balik Lebaran
Semifinal Lomba Domino IKATSI Unhas Berlangsung Sengit di Unhas Hotel